Daun kecil di sebuah tangkai, tangkai kecil di sebuah pohon yang
besar. Adakah dia hidup? Bagaimana dia hidup? Adakah kita tahu? Mungkin
kita tak peduli. Aku mencoba menuliskan seuntai cerita tentangnya.
Tentang daun itu. Tentang daun-daun tertiup angin. Daun yang mengembara,
menggabarkan cerita hidup makhluk kecil untuk melukis dunia, ya d
Kala
pohon itu sudah semakin besar dan mulai menjadi tempat berteduh banyak
orang, si daun kecil tampak gembira. Di tempatnya yang cukup tinggi,
yaitu di antara ranting-ranting pohon, ia melihat banyak orang datang
dan pergi. Ia juga melihat burung, awan, langit, tanah, dan kursi. Ia
merasa ada banyak hal yang dapat ia lakukan. Ada banyak hal yang harus
ia pelajari. Namun, ia teringat akan dirinya yang hanya sebuah daun, dan
ia pun melupakan semua keinginannya itu.
Begitulah setiap hari,
sambil menjalankan tugasnya sebagai sebuah daun, yaitu bernafas untuk
sang pohon, dan meneduhkan setiap orang yang berteduh, dan juga jadi
tempat peristirahatan untuk burung-burung, ia tidak henti-hentinya
mengamati dan menikmati dunia. Hal yang paling ia senangi adalah tiupan
angin. Kala angin berhembus menyentuh seluruh tubuhnya, seolah
mengajaknya untuk sejenak merenungi, berenang dan tenggelam dalam
hembusan sang angin.
Terik sinar matahari tak membuat lemah,
sekalipun kadang ia letih. Dinginnya malam tak membuat sepi, karena ia
tahu ada bintang-bintang dan Bulan di tempat yang jauh selalu menemani.
Si daun kecil, lugu dan bisu. Tapi bukan berarti dia tak melakukan apa-apa.
Ia melihat, mendengar, merasakan.
Ia bekerja, ia belajar, dan ia mencintai hidup juga.
Ia mungkin adalah sisi terlemah dan terkuat kita. Mengapa kita tak coba resapi?
- Jatuh cinta
Musim
panen sudah tiba. Panen bagi manusia, panen juga bagi seluruh penghuni
alam semesta. Panen juga bagi burung-burung. Si daun melihat ada begitu
banyak burung bertebangan, mereka begitu indah. Kadang mereka melintasi
si daun dan menyapanya. Namun, ternyata ada satu burung yang tak hanya
menyapanya saja. Burung itu hinggap di antara ranting tempat si daun itu
berada. Burung itu tersenyum dengan senyum yang menawan dan mata yang
sangat indah.
Pertama kali melihatnya si daun pun terpesona.
Betapa indah dan cantiknya si burung di mata si daun. Begitulah mereka,
makhluk kecil di dunia yang besar.. mereka saling sapa hanya dalam satu
musim saja. Perjumpaan yang tak lama itu telah menggoreskan cinta di
hati si daun. Setiap hari daun berdiri di tempatnya dengan penuh harap
bahwa sang burung akan kembali. Tak pernah ia lupa betapa indahnya mata
sang burung. Mungkin diantara semua burung, dia lah burung yang paling
indah. Takkan pernah terlupa, takkan pernah terhapus.
Apa mau
dikata, harap tinggal harap, rupanya tak pernah ia jumpa lagi sang
burung yang indah itu. Tak pernah pula si daun nyatakan cinta pada sang
burung. Perjumpaan yang begitu cepat dan cinta yang begitu lambat untuk
disadari.
Kini mulailah daun beranjak dewasa, seiring berjalannya
waktu, dari hari-kehari ia sering berjumpa dengan berbagai macam
makhluk, termasuk burung-burung yang indah. Namun, tak juga ia lupa pada
burung yang ia cinta. Di hatinya selalu tergambar mata indah sang
burung. si Daun hanya bertanya, “Dimanakah dirimu?” Berharap suatu saat
nanti bisa berjumpa kembali. Tak ada satu burung pun yang dapat
menggantikan keelokan burung yang ia cinta.
Hidup begitu tak
terduga, saat musim kemarau tiba, semua tanah menjadi gersang, dan semua
bunga menjadi layu. Semua hewan kelaparan dan semua manusia pun menjadi
semakin egois. Manusia-manusia itu menangkap segala yang bisa mereka
tangkap, dan lagi mereka memperebutkan semuanya itu, seolah tidak
habis-habis nya mereka merasa puas.
Dari kejauhan daun melihat
lagi cintanya. Ya ia melihat burung yang dicintainya dari jauh. Namun
sayang, ia melihat burung yang indah itu dijadikan mainan. Burung itu
dimandikan, diberi makan dan diberikan sangkar. Burung itu pun sangat
menikmatinya, tapi entah mengapa dari jauh daun begitu merasa sedih.
Ternyata
benar, tibalah dimana manusia-manusia itu mulai bosan. Mereka menyiksa
burung itu hingga terluka. Hingga tak lagi berbekas elok dan indahnya si
burung itu dulu. Kini burung itu hanyalah burung yang terluka, karena
sudah tak lagi berharga maka manusia-manusia itu pun melemparkannya.
Betapa
hancur dan sedih hati si burung. Ia pun bergegas terbang lari menjauhi
pandangan daun. Ia tak tahu bahwa selama ini daun mengawasinya dari
jauh. Ia tak pernah tahu bahwa dalam deritanya, si daun pun menderita.
Ia tak tahu bahwa dalam tawanya ketika ia dalam sangkar daun sudah
bersedih terlebih dahulu. Terlebih ia tidak tahu, bahwa ternyata jauh
lebih indah cinta daun padanya dari pada keelokannya dulu.
Begitulah
burung itu pergi dengan luka pada sayap-sayapnya. Daun hanya melihatnya
dari kejauhan, tak bisa ia berkata-kata. Tak bisa juga ia menggapai
sang burung. namun ia tetap cinta. Baginya, sekalipun sang burung telah
berganti rupa, tetaplah ia menjadi yang terindah. Dalam pandangannya
tetap sorot sang burung itu lah yang paling indah.
Ia berharap
suatu saat kan berjumpa lagi dengannya, dengan burung yang selalu ia
cinta. Cintai yang selalu mengingatkannya pada sebuah keindahan. Cinta
yang tak harus dia miliki, cukup dia mengerti-cukup dia alami..
Ia
berharap suatu saat nanti dapat lebih merasakan apa yang dirasakan sang
burung, hanya untuk sekadar berbagi. Berbagi canda dan tawa, berbagi
luka dan derita, ya! Berbagi cerita! Tak satu pun ia ingin miliki. Ia
hanya ingin menjadi cerita.
Daun itu pun gugur,
melepaskan diri dari rantingnya, tertiup angin. pergi jauh meninggalkan
pohonnya. Entah kemana ia akan pergi.
"Kemanapun angin berhembus
membawaku, semoga kita kan berjumpa kembali. semoga kita dapat berbagi
cerita kembali." kata daun itu bergumam dalam hatinya..
*selanjutnya : - daun dan para peneliti ..