Tampilkan postingan dengan label youth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label youth. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2015

Identitas Kemerdekaan Kita…


Perjalanan saya mengatar teman dari desa, kabupaten Bandung menuju kota Bandung kali ini menginspirasi saya untuk berpikir dan menyelami identitas kemerdekaan kita. Yang mengherankan saya, ketika saya melalui jalanan di kabupaten jalan tampak macet dan padat oleh karena hampir seluruh masyarat desa turun ke jalan untuk merayakan HUT RI yang 69 ini. Ya namanya juga di desa, semua perlengkapan perayaan itu dibuat seadanya , dari barang-barang yang barangkali sudah jadi rongsok, kemudian disulap oleh kreatifitas jadilah pernak-pernik bernuansa perjuangan kemerdekaan. Dari mulai gerobak yang disulap jadi meriam, becak jadi tank, bambu jadi senapan, juga ada orang-orang yang jadi actor dadakan dengan acting mereka yang seadanya. Ada yang jadi prajurit, petani, orang pincang yang masih berjuang untuk kemerdekaan, orang-orang yang disiksa oleh penjajah namun tetap gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan dan lain seterusnya..

Semuanya masih tampak biasa, karena memang penekanan kemerdekaan kita cenderung dimaknai sebagai sebuah perjuangan melawan penjajah. Dengan kata lain kemerdekaan kita itu adalah hasil perlawanan terdahadap penjajah. Hingga ditengah barisan dan kerumunan saya melihat peragaan ibu hamil yang sedang kepayahan melahirkan dengan kondisi kritis dengan banyak labu darah bergelantungan di atas tempat tidur dorongnya. Ibu itu berjuang untuk sekuat tenaga bertahan dari kondisi kritisnya tersebut untuk melahirkan anak yang dikandungnya. “Beuh” ibu-ibu juga rupaya berjuang rupanya untuk kemerdekaan kita?” Kata saya dalam hati.

Kemerdekaan macam apa yang ibu ini perjuangkan? Bagi saya peragaan ibu yang tengah melahirkan ini mengingatkan kita pada makna kemerdekaan yang mungkin saat ini kita sering abaikan.
Di tengah maraknya isu terorisme, radikalisme agama, fanatisme suku dan lain sebagainya kita diperkenalkan dengan senjata dan kekerasan. Sosialiasi kekerasan sekarang ini sudah menjadi cerminan terhadap nilai dan pola-pola sosial masyarakat kita. Bahkan kekerasan disinonimkan dengan perjuangan! Seringkali langkah demokrasi kita pun gagal ditempuh oleh karena adanya kubu yang merasa keberatan dengan suatu keputusan, kemudian akhirnya menyebabkan terjadinya kekerasan dan kerusuhan yang akhirnya menyebabkan kehidupan berbangsa dan bernegara kita kurang stabil. Ironisnya ketegasan bangsa hanya diukur dari militer dan persenjataan yang dimiliki. Ketegasan hanya diukur dari berapa banyak penjahat entahkah itu koruptor, teroris, pembunuh, penipu dll dijebloskan ke penjara. Ketegasan dan kekuatan bangsa hanya diukur dengan apa yang bangsa itu miliki secara fisik, dari apa yang nampak. Kekuatan bangsa hanya diukur apakah bangsa itu sudah punya nuklir atau belum. Pertanyaan saya, apakah kemerdekaan kita selama kurang lebih 69 tahun ini hanya sebatas itu? Dan apakah kita telah sungguh merdeka? Maksud saya, apakah iklan semacam di atas tidak membuktikan bahwa sebenarnya kita telah digiring dalam penjajahan era baru yang lebih canggih dari penjajahan kita dulu oleh Belanda dan Jepang selama 350 tahun plus 3,5 tahun?

Senjata dan Lomba itulah umumnya yang hari ini kita lihat dalam perayaan HUT RI yang ke 69 ini. Mengapa kita bersenjata? Jawabannya jelas, karena kita tengah berlomba. Tidak perlu jauh-jauh kita sebagai individu tengah berlomba untuk bertahan hidup, bertahan untuk tidak tersingkir, dan kalau ada kesempatan kenapa tidak jadi yang terbaik, yang tersukses, yang terjaya. Begitupun kita sebagai suatu bangsa tengah berlomba dengan bangsa-bangsa lain untuk membuktikan bahwa kita bisa bertahan, berjuang untuk menjadi bangsa terbaik diantara bangsa-bangsa lain. Maka kita menemukan bahwa “angkat senjata” adalah hal yang wajar dilakukan saat ini. Wajar pula bila kita mengeliminasi perserta lomba yang lain dengan senjata kita, wajar pula bisa kita angkat senjata pada siapapun yang kita rasa mengancam posisi kita.

Senjata yang dimaksud bukan senjata fisik seperti pistol dan meriam, tapi dalam cakupan yang lebih luas seperti misalnya isu politik, isu agama, propaganda, bahkan iklan dan trend zaman sekarang dapat juga dikatakan sebagai sebuah senjata yang lebih canggih dari senjata semacam pistol dan meriam. Siapa punya senjata dialah yang merdeka. Siapa yang punya senjata yang jauh lebih canggih dialah penguasa dunia. Juga sebaliknya siapa tidak bersenjata hanya akan terjajah, atau menjadi “jongos”/babunya si penjajah. Sadar atau pun tidak kita digiring pada mindset seperti ini.

Perjuangan ibu yang tengah melahirkan dalam kondisi kritis dengan labu-labu darah bergelantungan di atas tempatnya berbaring memberikan perspektif yang jauh berbeda tentang kemerdekaan. Perjuangannya memberikan perspektif lain bagaimana melihat dan menyelami kemerdekaan . Bahwa kemerdekaan sejatinya adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk memilih terus berjuang dari pada menyerah. Berjuang sekali pun dalam kondisi yang paling terpuruk dan paling kritis. Berjuang bukan untuk kepentingan dan ego diri sendiri, melainkan berjuang untuk sebuah kehidupan yang baru. Berjuang untuk sebuah cinta dan harapan. Tidak peduli seberapa keras, tak peduli seberapa sakit, tidak peduli seberapa luka dan darah yang sudah dikorbankan, seorang ibu akan terus berjuang, bukan berjuang untuk memusnaskan, bukan untuk mengeliminasi, bukan untuk membunuh, tapi berjuang untuk sebuah kehidupan bagi generasi baru. Disitulah sebuah harapan ditumpukan, disitulah cinta dan kasih sayang tumbuh menjadi pupuk yang baik untuk memulai sebuah kehidupan! Kemerdekaan itu bukan hanya “angkat senjata” hanya demi sebuah perlombaan hidup, jauh dari itu, kemerdekaan itu adalah sebuah harapan, bahwa akan ada hidup yang jauh lebih baik, jauh lebih harmonis, jauh lebih damai, jauh lebih indah. Kemerdekaan adalah sebuah cinta bahwa tak akan ada lagi tangis kelaparan dan kemiskinan, karena kita saling berbagi dan memberi, bahwa akan ada dunia dimana kita bisa hidup bersama, berdampingan, bergandengan tangan dan saling melengkapi, tanpa melihat suku, agama, warna kulit, dan apapun perbedaan diantara kita.

Karenanya kita patut mengingat, bahwa identitas kemerdekaan kita seyogyanya bukanlah oleh senjata, bukan "angkat senjata!" melainkan oleh sebuah harapan dan kasih sayang. Karenanya marilah kita jangan sia-siakan perjuangan mereka yang sudah menitipkan harapan dan kasing sayang pada kita. Marilah kita buat ibu pertiwi yang telah berjuang melahirkan kita menjadi manusia yang merdeka bangga atas harapannya.
Akhirnya saudaraku marilah kita tanamkan welas asih tanpa batas untuk negeri ini. Salam kanyaah ti sim kuring.

Bandung, 17 Agustus 2014

Senin, 25 Agustus 2014

Mahasiswa Priyayi...



Coretan ini berangkat dari recehan-recehan yang ku pungut satu persatu dan ku kumpulkan menjadi sebuah bahasa hati. Bahasa hati untuk apa yang sedang terjadi, bahasa untuk sebuah kepedulian atas kelalaian dan kelenggahan, bahasa hati untuk sebuah risalah yang mungkin sebagian besar dihiraukan orang. Risalah tentang siapa dan bagaimana? Tentang bagaimana kita selayaknya membentuk identitas kita! Sebuah keresahan yang ku istilahkan sebagai “mahasiswa priyayi”. Apa dan bagaimana itu?

Pasar modern yang kita cicipi nikmatnya ini, kini telah menjadi “candu” atas pola pikir dan cara kita bersikap. Sadar atau pun tidak kita digiring pada sebuah mindset pasar global, yang mengedepankan profesionalisme, individualisme, konsumerisme, dan pragmatisme. Pasar modern dengan berbagai macam iklannya mengajarkan pada kita bahwa hidup pernuh dengan kompetisi dimana kita harus serba cepat, harus mampu menjadi yang terbaik dari yang terbaik (best of the best!). Tidak salah memang kita sebagai manusia perlu mengupayakan diri sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik! Bahkan ini adalah kewajiban setiap manusia. Tapi coba kita pikirkan sejenak. Apa itu menjadi baik? Apa tolak ukurnya menjadi yang terbaik dari yang terbaik? Biar kita jawab sendiri-sendiri.

Umumnya yang sering didengungkan di lapangan tempat kita bermain, tempat kita belajar, tempat kita bekerja, menjadi yang terbaik dari yang terbaik itu mengacu pada orientasi materil sesuai dengan pola pikir dunia modern yang cenderung kapitalis! Dengung itu begitu keras memengaruhi pikiran kita, sehingga kita tidak sempat mempertanyakan lagi esensi dari kebaikan itu sendiri. Kita begitu sibuk berlomba tanpa memahami makna. Tanpa kita sadari kita mengejar apa yang bukan menjadi “suara batin” kita gumamkan, kita sebenarnya mengikuti sebuah “iklan”. “Iklan” yang mendoktrin kita menjadi “pekerja” dan “budak” pasar. Hal ini jelas terlihat dalam pola masyarakat urban yang serba cepat tanggap dalam menghadapi tantangan ekonomi-sosio-politik yang ditandai bermunculannya manusia-manusia terdidik, manusia kaya, manusia “jaya” yang justru mengalami kemandekan! Di sisi lain manusia itu terdidik, kaya bahkan Berjaya, tapi ironisnya manusia itu sangat rentan dan rapuh oleh tekanan dan tingkat stress yang sangat tinggi. Berapa banyak orang yang dapat dikatakan “sukses” mati bunuh diri? Berapa banyak insinyur-insinyur depresi? Berapa banyak mahasiswa yang konon katanya berprestasi mandek dan putus asa?

Lalu bagi kita yang memang masih “merangkak” dan “merayap” ini, tentu kita perlu memikirkan hal-hal di atas. Jangan-jangan sekarang kita tengah berlomba untuk sebuah kemandekan? Kita perlu memikirkan kembali kepada apa dan bagaimana seharusnya kita. Kalau boleh dikatakan sebagai seorang pelajar atau mahasiswa kita perlu bertanya pada diri kita, pelajar/mahasiswa macam apakah kita? Apakah kita menganggap diri kita pelajar/mahasiswa oleh karena memang batin kita meyakini demikian, atau kah itu hanya sebutan pasar untuk menggolong kelas dan strata kita berada. Dimana kalau pelajar, dapat ongkos setengah harga kalau naik bis, diskon kalau beli buku, dst… Tentu ini menjadi sangat lucu dan kocak, betapa tidak kata mahasiswa itu hanya merujuk pada orang (muda) yang belum bekerja (belum mencapai kesuksesan materil) yang perlu mendapatkan subsidi..? itukah? Tentu tidak!

Seyogyanya seorang mahasiswa adalah seorang yang terdidik, dan juga sedang dididik untuk menjadi manusia yang utuh yang kemudian akan hadir di tengah masyarakat sebagai seorang pendidik. Pendidik untuk memanusiakan manusia. Artinya seorang mahasiswa adalah seseorang yang kritis dan peka terhadap gejala-gejala dan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam lingkungan dan masyarakatnya untuk menjawab setiap problematika yang dihadapinya. Hal ini menjadi samar ketika hal itu sudah terlupakan dan digeser oleh mindset pasar global yang menekankan individualitas dan formalitas. Nilai disecarik kertas itulah harga diri seorang mahasiswa. Orientasi pendidikan kita berkutat di angka dan nilai tanpa pernah menyentuh kehidupan riil di lapangan. Di lapangan secarik kertas itu pun sangat berarti untuk melamar sebuah pekerjaan. Ironis memang, angka dan nilai rupanya hanya untuk sebuah alat untuk mendapatkan sebuah penghidupan.

Apa artinya menjadi seorang mahasiswa semacam ini? Inilah yang ku sebut sebagai “mahasiswa priyayi”. Layaknya jaman kompeni. Sebagian dari orang-orang kita diangkat harkat dan martabatnya seolah-oleh lebih tinggi dari saudara sebangsanya. Mereka disekolahkan, mereka diberi keju dan roti, mereka diberi pakaian, jas dan gaun agar mereka menjadi budak dalam kepandaian mereka. Agar mereka menjadi tuan atas saudara sebangsanya. Agar mereka menjadi alat untuk menggerogoti ibu pertiwi, agar mereka menjadi alat penghisap atas saudaranya sendiri. Agar mereka menjadi alat yang ampuh untuk memperkaya si penjajah. Agar penjajah tak harus susah-susah mengambil apa yang ada pada kita.

Mahasiswa priyayi adalah mereka yang buta. Mereka yang hanya mementingkan angka dalam kertas semata. Mereka yang lupa pada suara batin mereka sendiri. Mereka yang telah merelakan kesadaran mereka hanya untuk sebuah iklan, sebuah janji dan promosi dari kapitalisme modern. Mereka yang lupa pada sesama. Mereka yang mengabaikan welas asih demi sebuah ego. Mereka yang berusaha kaya, tapi akan tetap miskin untuk selamanya. Kerena kemiskinan mereka melakat pada batin dan hati nurani yang miskin. Ku rasa, tak perlu diuraikan lagi bagaimana itu sekarang, karena kamu, aku, ya.. kita menyaksikan itu dari waktu ke waktu.

Saudaraku, marilah kita bangkit! Marilah kita lekas bangun dari tipuan dan rayuan sang penjajah dunia. Kita memang sederhana, tapi kita peduli! Karena kita peduli marilah kita kumandangkan bahwa kita pun Indonesia adalah bangsa yang setara dengan mereka! Tak perlu kita agungkan kepriyayian yang kosong itu. Kita buang jauh-jauh. Dan marilah kita tengok kiri dan kanan kita, dan hiduplah bagi mereka yang ada di kiri dan kanan kita dengan penuh cinta. Aku yakin, dan selalu yakin, bahwa kita bukan bagian dari kepriyayian semacam itu, kita tidak mau ada disitu, kita tidak hidup untuk itu. Jangan lengah! Jangan lalai!

Semoga recehan ini, menjadi recehan yang menyapa kita semua, layaknya sebuah recehan yang digunakan di telepon umum. Receh memang, tapi receh itu bercerita tentang sebuah rindu, rindu tentang kabarmu dan kabarku, yang menjadi doa untuk setiap perjuangan kita!

Minggu, 25 Mei 2014

Ngadu Bako...

Dalam bahasa Sunda tersimpan banyak undak-usuk basa yang tak jarang maknanya tidak diketahui atau sudah mulai dilupakan. Padahal salah satu identitas dan ciri khas dari suatu bangsa menurut orang Sunda sendiri adalah bahasa. Ciri khas bahasa Sunda adalah pemaknaan suatu kata secara luas. Pemaknaan dan penempatan kata ini menurut salah seorang ahli bahasa dan sejarah terdiri dari 16 tingkat. Tentu saja jika ke-16 tingkat ini dipaparkan di dalam blog ini akan menjadi upaya yang sangat melelahkan. Oleh karena itu dalam blog ini hanya akan menerangkan mengenai judul yang tertera di atas, yakni salah satu undak-unduk basa dalam bahasa Sunda, ngadu bako.

Apa itu ngadu bako? Secara hurufiah ngadu = berarti bertarung/tanding, bako = tembakau. jadi sederhananya ngaduku bako dapat diartikan bertarung tembakau. Sedangkan jika diterapkan kata kerja nga = me, pada kata bako, jadi ngabako berarti merokok tembakau. Jadi apa bedanya ngaduk bako dan ngabako itu? untuk itu mari kita telusuri bersama!

Dikalangan orang Sunda jaman dulu menanam, membudidayakan, dan menggunakan tembakau sebagai rokok sudah dikenal luas. Merokok tembakau merupakan suatu kebiasaan atau sebuah tradisi masyarakat secara umum. Merokok tembakau pun menjadi suatu kebiasaan yang sangat merakyat atau dapat dikatakan menjadi ciri sebuah perkumpulan “masyarakat” atau “rakyat”. Merokok tembakau, atau kita sebut dengan istilah ngabako adalah sebuah perlambangan dari sebuah kesederhaan dari sebuah gaya hidup seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat. Ngabako biasanya dilakukan disela-sela sebuah pekerjaan, atau dikala sedang “santai”. Intinya ngabako adalah suatu kegiatan yang “santai.” Sederhananya ngabako mungkin dapat disamakan dengan “ngopi.” Berbagi bako pun di kalangan masyarakat adalah suatu hal yang biasa. Saling berbagi (mencicipi) bako nya masing-masing untuk melihat selera dan kebiasaan teman atau siapapun adalah suatu hal yang biasa. Itu dapat kita sebut dengan ngadu bako. Jadi singkatnya ngadu bako itu berarti saling mencicipi bako. Di dalam ngabako dan ngadu bako tersebut selalu diselingi dengan suatu perbincangan.

Seiringnya penggunaannya, kedua kata ini memiliki perluasan makna. Ngabako diartikan sebagai suatu perbicangan yang tidak ada arti dan gunanya. Ngabako berarti sebuah pembicaraan yang hanya omong doang. Ngabako juga dapat diartikan berbohong, membicarakan sesuatu yang tidak benar adanya yang tidak jelas juntrungan dari suatu perbincangan. Ngabako berarti berbicara dari sudut pandang sendiri (searah). Sedangkan ngadu bako dapat diartikan sebagai dialog terhadap sebuah wacana atau khasanah sebuah pemikiran. Karena itu adalah sebuah dialog, maka ada suatu komunikasi dua arah yang saling mendengarkan/memperhatikan dan saling mengutarakan pendapat masing-masing.

Ngadu bako adalah istilah untuk sebuah upaya saling memahami. Di dalam masyarakat Sunda tempo dulu, semenjak kerajaan-kerajaan Sunda mulai berdiri kebiasaan ngadu bako sudah dikenal. Bahkan dapat dikatakan bahwa ngadu bako adalah salah satu cara sederhana untuk dapat memahami dan menjadi manusia yang mengarahkannya pada pemahaman suatu bangsa dan suatu tatanan suatu kerajaan (negara). Karenanya kita mengenal istilah “ngadu bako silihwangi”. Ngadu bako silihwangi ini adalah sebuah upaya yang dilakukan pemerintahan kerajaan Sunda pada masa pemerintahan raja Siliwangi yang kala itu sudah mampu mempersatukan kembali kerajaan Sunda yang sudah sempat terpecah. Sehingga kejayaannya dapat disamakan dengan kejayaan raja sebelumnya (kakek Prabu Siliwangi, yakni Prabu Wangi). Karenaya nama Prabu Silihwangi sebenarnya adalah sebuah julukan. “silih” = pengganti. “Wangi” = merujuk pada prabu Wangi, jadi dapat diartikan pengganti/penerus Prabu Wangi. Bagaimana upaya Prabu Silihwangi tersebut?

Untuk membangun kerajaannya salah satu upaya yang terbilang sangat sederhana adalah melalui ngadu bako, dimana para prajurit kerajaan diutus ke berbagai penjuru dan pelosok seputar daerah kekuasaan kerajaan Sunda kala itu, untuk tinggal diantara masyarakat (rakyat). Apa yang mereka lakukan? Sangat sederhana, yang mereka lakukan hanya berbagi bako. Berbagi bako disini tidak hanya saling mencicipi tembakau secara harfiah, tapi juga berbagi pandangan secara sederhana dan merakyat. Sehingga para prajurit tidak hanya dilatih secara militer saja, tapi juga dituntut suatu pemahaman dan pengertian yang luar terhadap sebuah tatanan baik itu tatanan kemanusian dan juga kenegaraan.

Ngadu bako adalah kegiataan yang sangat sederhana dan santai, pembicaraannya pun dapat dimulai dengan pembicaraan yang sangat sederhana. Dimulai dari kehidupan pribadi, yakni masalah-masalah yang dihadapi, cara pengambilan keputusan terhadap sebuah kehidupan, atau apa pun. Yang kemudian pembicaraan itu dapat meluas dan mendalam sampai kepada makna manusia dan hubungannya dengan sebuah kerajaan atau negara. Ngadu bako adalah upaya untuk saling belajar, saling mengerti satu sama lain. Ngadu bako adalah upaya untuk mendalami sebuah kehidupan secara merakyat. Ngadu bako adalah kesempatan rakyat untuk mengutarakan pandangan-pandangannya terhadap segala sessuatu, baik itu tentang sebuah kehidupan, tananan masyarakat, atau kerajaan. Ngadu bako adalah sarana bagi prajurit untuk dapat mendapatkan informasi dan keragaman pikiran dari masyarakat tentang hidup, baik itu tentang sebuah pola dalam masyarakat atau sebuah pemahaman terhadap sebuah kerajaan yang nantinya akan kembali dilaporkan kepada kerajaan demi kelangsungan dan kemajuan dari kerajaan tersebut. Karenanya ngadu bako kala itu menjadi salah satu cara untuk menampung aspirasi dari rakyat. Ngadu bako silihwangi dapat berarti dialog yang saling mengharumkan/memajukan (silih =saling, wangi =harum) antara rakyat dan kerajaan/negara.

Ngadu bako dapat juga berarti proses pendidikan dua arah, yakni antara rakyat-kerajaan/negara. Antara rayat yang belajar secara informal melalui kehidupan sehari-hari, dan prajurit yang memang dilatih secara khusus dididik di sekolah kerajaan, untuk dilihat kesatuan dan keutuhannya, untuk dilihat hubungan antara sebuah teori atau bahkan ideologi dengan kehidupan praksis. Apakah semuanya itu sesuai atau bahkan bertolak belakang? Ngadu bako dapat berarti upaya untuk saling menegakan ciri dari seorang manusia, dan ciri dari sebuah bangsa. Apa dan bagaimana itu?

Ciri manusia menurut pikiran Sunda terdiri dari 5 aspek, yakni: 1. Welas asih (Kasih sayang), 2. tatakrama (etika berprilaku), 3. Undak-usuk (etika berbahasa), 4. Budi daya budi basa (penghatayatan dan pemaknaan terhadap sebuah pekerjaan dan bahasa) , 5. Wiwaha Yuda Na Raga (“Ngaji Badan” membaca dan memahami sebuah tatanan [ekosistem/tubuh] secara utuh). Ciri bangsa menurut pikiran Sunda terdiri dari 5 aspek, yakni : 1. Rupa (wajah, terkandung di dalamnya arah dan pandangan), 2. Basa (bahasa), 3. Adat (tradisi) 4. Aksara (tulisan), 5. Kebudayaan.

5 hal di atas ini dapat kita lihat secara simbolik melalui kujang (senjata khas Sunda) dimana kujang memiliki 5 titik. Maka demikian  5 hal di atas menjadi sesuatu yang perlu untuk ditegakan/dipelihara oleh setiap orang Sunda. Upaya “saling” (silih asih, asuh, asah) menjadi kunci dari bagaimana orang Sunda itu berhubungan. Ngadu bako adalah salah satu media untuk saling memanusiakan dimana di dalamnya terkandung welas asih, tatakrama (tata =tataman, semut) yakni saling menghargai dan menghormati baik di dalam keberbedaan dan kesaamaan masing-masing, undak-usuk yakni pemaknaan dan keluasan dari sebuah bahasa, budi daya budi basa yakni penghayatan terhadap sebuah pekerjaan dan bahasa, dan wiwaha yuna na raga yakni upaya untuk memahami suatu tatanan secara utuh. Yang kemudian bukan hanya memanusiakan seseorang atau sekelompok manusia, tapi manusia-manusia itu pun pada akhirnya akan membentuk atau melahirkan suatu bangsa dimana suatu bangsa memiliki rupa suatu wajah yang didalamnya terkandung suara arah dan pandangan atas hidup, bahasa, adat atau tradisi, aksara atau tulisan, yang dikemas dalam sebuah kebudayaan.

Dengan demikian sampailah kita pada sebuah kesimpulan bahwa dalam kesundaan, Ngadu bako atau dialog (sederhana diantara masyarakat jelata) dianggap sebagai sebuah metode/cara untuk menegakan manusia dan bangsa. Sehingga manusia itu tidak bisa berdiri hanya menurut pandangannya saja, dan suatu bangsa itu berdiri tidak bisa menurut keinginan dan kehendak dari penguasanya saja. Suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang saling memanusiakan, dan manusia yang saling memanusiakan pada akhirnya akan membentuk suatu bangsa yang besar.


Sampailah kita pada kesadaran bahwa betapa beragamnya suku bangsa dan bahasa yang ada di Indonesia ini. Rasanya bukanlah sebuah arogansi ketika kita mengatakan bahwa negara kita Indonesia adalah sebuah negara yang besar dan kaya. Namun kebesaran dan kekayaan itu akan sirna jika tidak ada manusianya, kebesaran dan kekayaan itu tidak akan menjadi apa-apa tanpa manusia. Karenanya marilah kita saling memanusiakan! Marilah kita berdialog! Marilah kita saling memahi dan mengenal. Bukankah suatu kebahagiaan ketika kita dapat saling mengenal dan saling memahami?

Sabtu, 17 Mei 2014

Si Kabayan Manggih Mudun?

Kabayan..kabayan, dasar si Kabayan tak hentinya ia membuat orang heran oleh tingkahnya. Ia tidak bisa menerima sesuatu begitu saja. Tidak cukup rasanya bagi Si Kabayan jika hanya hidup “biasa” seperti orang lain. Bukan si Kabayan jika polahnya tidak membuat orang lain bertanya, heran, atau mungkin kesal. Entah mengapa Si Kabayan menjadi tokoh fiktif yang selalu “asik” dan nyentrik dengan segala yang melekat padanya.
Suatu kegiatan yang barangkali sangat biasa dilakukan setiap hari. Bahkan mungkin banyak orang tidak mempermasalahkan itu. tapi, sekali lagi bagi si Kabayan rupanya jadi perkara yang tidak biasa. Apa itu? itulah dimana saat si Kabayan “manggih mundun dan manggih nanjak” atau dalam bahasa Indonesia pada saat si Kabayan menemukan (jalan) turunan dan tanjakan!
Memang terbalik si Kabayan meresponi hidup ini. Pada saat ia menghadapi “pudunan” (turunan) si Kabayan bersedih/menangis. Tapi pada saat ia melihat tanjakan ia malah senang dan semangat. “Gelo” memang, umumnya orang senang kalau melewati turunan, karena tentulah jalannya menjadi mudah. Dan orang merasa capek atau mengeluh ketika menghadapi tanjakkan karena jelas jalan menanjak membutuhkan tenaga ekstra untuk melewatinya. Setiap kali si Kabayan dalam perjalanannya menemukan turunan ia selalu bersedih dan menangis, tapi setiap kali ia menemukan tanjakan ia senang dan semangat. Itulah salah satu cerita singkat yang diceritakan orang tua Sunda pada anak-anaknya.


“Lamun hirup kudu jiga si Kabayan. Lamun manggih mudun ulah babari atoh, tapi kudu ceurik sabab engke bakal manggih nanjak. Tapi lamun manggih nanjak kudu bagja, sabab engke bakal manggih mudun.”
Dalam bahasa Indonesia berarti, “Kalau hidup harus mencotoh si Kabayan. Kalau menemukan jalan menurun jangan cepat senang, tapi harus menangis sebab nanti akan menemukan tanjakan. Tapi, kalau menemukan tanjakan harus senang sebab nanti akan menemukan turunan.

Hidup adalah sebuah perjalanan, barangkali inilah kalimat yang paling mewakili definisi hidup dalam khasanah berpikir a la Timur. Perjalanan dalam hidup tidak hanya terdiri dari jalan lurus saja, ia juga terdiri dari berbagai macam kelok-kelokan, naik-turun, jatuh-bangun, dst, dan itulah yang membuat hidup itu menjadi berharga untuk dipelajari. Demikian juga dalam kesundaan, hidup itu dipandang sebagai sesuatu yang harus dipelajari dan dialami sendiri, bukan hanya “katanya”. Hidup tidak cukup menerima “apa kata orang”, untuk sampai pada sebuah kemenangan / kebahagiaan (kaluginaan) seseorang haruslah menemukan identitasnya dalam hubungannya dengan sekelilingnya, baik itu hubungan dengan dirinya sendiri, sesama, dan alam di mana ia berada.
Namun demikian, kita adalah manusia yang sering keliru melihat realitas. Itulah kata Si Kabayan. Kali ini si Kabayan tidak hanya mengajak kita tertawa untuk sejenak menertawakan hidup ini, tapi Si Kabayan juga ingin mengajak kita untuk sejenak menangisi hidup ini. mengapa demian? Apa maksud dari sempalan di atas? Sederhananya, sempalan singkat ini mengajak khayalak untuk lebih cermat dan berhati-hati dalam menilik dan menilai hidup. Pandangan dan pengalaman manusia perlu dilihat dari berbagai sisi secara utuh dalam kesatuan. Maksudnya dalam penilaian dan keputusan etis dalam hidup kita tidak bisa hanya melihat satu titik peristiwa saja, tapi kita perlu melihat hidup keterhubungan dari setiap peristiwa. Si Kabayan mewanti-wanti kita supaya kita jangan tertipu!

Mari berwapada diri...
Hidup secara alamiah terdiri dari berbagai macam hal yang bisa dirasakan, singkatnya rasa itu terdiri rasa yang kita senangi dan rasa yang tidak kita senangi. Yang kita senangi sering kita sebut dengan kebahagiaan (kabagjaan) dan yang tidak kita senangi disebut penderitaan (kasusahan). Si Kabayan di sini mengajak kita untuk berwaspada, untuk terlebih dahulu mengamati dan meneliti bagaimana “jalan” –nya hidup. Bukan hanya menikmati hidup, tapi melihat bagaimana hidup itu bergulir. Di sini kita melihat bahwa dalam pemikiran Sunda hidup dipandang sebagai sebuah siklus, seperti sebuah roda yang berputar dan bukan sebagai sebuah garis lurus, linear. Si Kabayan melalui cerita singkatnya ini hendak mengajak kita keluar sejenak dari hidup kita yang sementara ini untuk melihat keutuhannya.
Berwaspada diri berarti di dalamnya termasuk berwaspada pada kenyamanan yang sedang dialami, barangkali itu adalah awal dari sebuah penderitaan, kenyamanan yang membawa pada kesulitan dan kemandekan di masa yang akan datang. Manusia tidak boleh cepat puas dengan keadaannya sekarang. Jika hari ini ia mengalami berbagai macam kemudahan ia perlu mengoreksi dirinya, bahkan ia perlu meratapi dirinya, barangkali apa yang di dapatnya kini akan membawa dirinya dan generasi-generasi di bawahnya pada kesukaran. Karenanya ketika “si Kabayan manggih mundun” ia menangis bahkan ia meratap. Bagaimana mungkin seorang yang “bodoh” dapat melakukan hal itu? coba kita renungkan sejenak. Tentulah ini bukanlah proses pemikiran yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar bodoh. Sebaliknya, ketika “si Kabayan manggih nanjak ia bagja”, ia bersemangat untuk mendaki karena ia percaya setelah ia mendaki, di depan sana ia akan mendapatkan kelegaan, di depan sana akan ada sebuah turunan yang bisa dia nikmati! Ia meyakini sebuah proses kehidupan selalu mengalami pembentukan. Pembentukan itu terdiri dari berbagi macam kesulitan dan kesukaran, disitulah bukan hanya fisik, tapi semangat hidup, juga nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya seperti kesabaran, ketabahan, kebaikan, dst tumbuh dan berkembang yang akhirnya berperan penting dalam memberikan pandangan terhadap hidup yang jauh lebih luas dan dalam.
Disinilah filosofi Sunda, “Moal meunang perah lamun teu peurih.” [Tidak akan memiliki kekuatan (bisa/racun) jika tidak mengalami penderitaan] meresap dan tertanam. Dengan demikian pandangan sunda terhadap hidup adalah “memikirkan-kembali” dan bukan hanya “memikirkan-ke-depan.” Apa bedanya? Di dalam “memikirkan-ke-depan” orang biasanya cenderung pada kemajuan saja, etah seperti apa kemajuan itu, yang penting dipandang lebih baik dari hidup yang sebelumnya, tanpa kembali mengoreksi kelayakan dan kepantasan dari hidup itu sendiri. Berbeda dengan “memikirkan-kembali” disini bukan hanya kemajuan, tapi kesadaran pada pemaknaan atas keutuhan hidup itu sendiri. Kita tidak bisa berpuas diri hanya karena kita merasa, “ah sekarang saya sudah puas karena saya sudah lebih kaya dari sebelumnya.” Atau lebih populer atau lebih bijak, dst. Jika demikian kata si Kabayan, “Apa artinya hidup? hidup bukanlah dari miskin menjadi kaya, bukan dari tidak punya menjadi punya! Si Kabayan hanya akan meratapi “pudunan” yang sedang kita nikmati kini! Hidup tidak boleh “mandek” pada satu sisi, kita tidak boleh cepat puas baik itu pada keadaan politik, ekonomi, sistem atau pada suatu keadaan tertentu yang kita alami. Hidup itu perlu dipikirkan kembali, hidup itu perlu diwaspadai! Jalannya hidup itu seperti sebuah roda yang berputar, ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Yang mana yang lebih baik? Yang mana yang benar? Tidak ada dikotomi antara keduanya. Keduanya adalah sebuah kesempatan dan peluang untuk belajar lebih mengerti hidup ini. keduanya adalah sebuah keutuhan yang tidak bisa dipisahkan sebagai sebuah proses pemahaman atas betapa berharganya sebuah kehidupan! 

Kabagjaan berbeda dengan kalugunaan. Kabagjaan adalah sebuah kesenangan, kondisi yang diharapkan manusia. Hanya mengejar kabagjaan dalam hidup berarti menikmati hidup yang berat sebelah. Sedangkan kaluginaan adalah sebuah kecukupan hidup atau hidup yang tak berkekurangan. Dengan kata lain, kabagjaan berasal dari sebuah pandangan hidup yang mengarahkan diri pada hal-hal yang disenangi saja, sedangkan kaluginaan berisi sebuah pemaknaan atas keutuhan hidup dimana di dalamnya terkandung adanya “puduhan” dan “tanjakan” sebagai sebuah kecukupan hidup. Kecukupan disini berarti sebuah kesadaran pada pemenuhan identitas diri atas hubungan personal seseorang dengan sekelilingnya. Karenanya si Kabayan yang dikatakan “bodoh” tidak hanya mengajak manusia untuk sekadar melakukan dan mengejar apa yang disukai saja, tapi jauh dari itu, Si Kabayan mengajak kita untuk melihat hidup di dalam kecukupannya, yakni di dalam keutuhan dan kesatuannya di dalam hubungan-hubungan yang melekat padanya sebagai sebuah pencapaian pada penemuan identitas diri (mampunya kuring keluar dari kurung). Bagi si Kabayan, singkatnya hidup ini perlu untuk dikoreksi, tidak boleh dikelabui oleh keadaan. Jika hari ini kita ada dalam kenyamanan, kata si Kabayan, merataplah! Ketika kita mengalami tantangan, kata si Kabayan, berbahagialah dan nikmatilah! Jangan terkecoh! Hidup perlu dibaca kembali.