Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juni 2014

Lolondokan...

Meniru cara hidup Londok (bahasa Indonesia : Bunglon) adalah salah satu filosofi hidup orang Sunda, yang disebut dengan lolondokan. Dalam perkembangannya lolondokan kini mengalami penyempitan makna yang hanya diartikan sebagai sebuah tindakan pragmatis. Lolondokan mengalami penyempitan makna hanya meliputi pengambilan keputusan secara etis dan praktis seseorang atau sekelompok orang dalam suatu lingkungan agar diterima, agar diuntungkan, agar tidak mengalami kerugian. Padahal lolondokan adalah salah satu wujud welas asih, yakni bagaimana manusia itu harus hidup dengan sesamanya, merasakan apa yang dirasakan sesamanya dan menjadi setara..


Jika lolondokan hanya dipamahi sebagai sebuah tindakan pragmatis saja, tidak salah jika kita berasumsi jika masyarakat Sunda pada umumnya adalah masyarakat yang pasif, suka dengan status quo, dan masyarakat yang suka cari aman. Hal ini jelas tergambar dalam pola masyarakat Sunda yang tidak suka menjadi minoritas dan berlindung pada payung mayoritas. Contohnya, masuknya Islam sebagai agama negara dan agama mayoritas sejak ekspansi kerajaan-kerajaan Islam ke tanah Pasundan menyebabkan masyarakat Sunda dengan mudah menerima Islam sebagai agamanya, padahal kalau ditelusuri masuknya masyarakat Sunda kala itu menjadi Islam (secara politis pada umumnya) tidak lebih dari tindakan pragmatis-politis untuk cari aman. Sementara di dalamnya keyakinan dan paham mereka tidak berubah, mereka tetaplah Sunda hanya sekarang berbajukan agama.
Menurut salah seorang penghayat Sunda, Daud Bin Dahlan (alm) menegaskan bahwa, “Segala sesuatu bisa diterima oleh orang Sunda, selama itu mengandung manfaat, selama itu memiliki guna, namun belum tentu (tidak sama sekali) menjadi darah dan daging, melainkan hanya menjadi baju (alat pelindung) yang selama diperlukan bisa dipakai, kalau sudah tidak diperlukan bisa dilepaskan.” Menurut Daud Bin Dahlan (alm) penyempitan makna ini didasarkan pada pengalaman historis yang panjang, dimana orang Sunda mengalami kekecewasaan historis, atau bisa dikatakan sebagai trauma historis. Trauma historis yang dimaksud adalah jatuhnya kerajaan-kerajaan Sunda secara berkali-kali pada tangan tirani kala itu, di mulai dari perang saudara, ekspansi dari kerajaan-kerajaan Hindu yang berdekatan dengan kerajaan Sunda, ekspansi dari kerajaan-kerajaan Islam, hingga munculnya jajahan dari negara Eropa seperti Potugis dan Belanda. Trauma historis ini mendatangkan kejenuhan hingga membawa pada penyimpangan terhadap falsafah Sunda.

Jika lolondokan hanya dipahami sebagai upaya untuk cari aman, tentu sangat pragmatis sekali, hanya melulu berfokus pada keuntungan diri, tentu saja hal ini berlawanan dengan ciri manusia itu sendiri yang dipahami dalam filsafat Sunda. Salah satu ciri itu adalah (1) welas asih [2. tatakrama (etika berprilaku), 3. Undak-usuk (etika berbahasa), 4. Budi daya budi basa (penghatayatan dan pemaknaan terhadap sebuah pekerjaan dan bahasa) , 5. Wiwaha Yuda Na Raga (“Ngaji Badan” membaca dan memahami sebuah tatanan [ekosistem/tubuh] secara utuh]. Di dalam welas asih manusia tidak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri. Welas asih adalah penghubung antara setiap pribadi dengan alam di mana ia berada. Hilangnya welas asih dalam diri manusia akan menyebabkan manusia itu tidak menjadi manusia, yang akhirnya tidak akan mewujudkan suatu bangsa, atau akan meruntuhkan suatu bangsa. Dimana bangsa memiliki 5 ciri (1. Rupa (wajah, terkandung di dalamnya arah dan pandangan), 2. Basa (bahasa), 3. Adat (tradisi) 4. Aksara (tulisan), 5. Kebudayaan). Maka jelas jika lolodokan hanya dipahami sebagai tindakan pragmatis saja ini akan meruntuhkan isi dari antropologi dan bahkan filsafat dan manusia sunda itu sendiri!

Cangkang tanpa isi, barangkali itulah yang akan terjadi jika trauma historis ini terus menerus berlanjut! Rupa yang tidak jelas kemana lagi arah tujuan, hanya sebatas asal hidup, bahasa yang hanya sebatas pada kata-kata tanpa relevansi yang jelas, adat yang hanya berisi aturan-aturan yang tidak diketahui asal-usulnya, aksara yang hanya menjadi warisan arkelogi, dan kebudayaan yang hanya menjadi tontonan publik tanpa sebuah arti! Pragmatisme telah menyusup dalam pikiran dan cara hidup Sunda. Padahal sejatinya pragmatisme adalah musuh terdekat bagi falsafah Sunda yang menuntut kesejatian (kuring) dan keselaran dan kecukupan hidup (kaluginaan).

Lalu bagaimana lonlondokan itu? Lolondokan adalah sebuah implementasi dari sebuah pikiran Sunda tentang manusia. Praksis dari sebuah pandangan antropologis-sosiologis dari pikiran Sunda. Di dalam lolondokan terkandung sebuah keberanian dan kebijaksanaan hidup. Dimana hidup itu harus dijalani dengan berani, tapi bukan berarti semena-mena, dan sembarangan, tapi berhati-hati dan berwaspada diri. Keberanian yang tertinggi bukanlah mengumbar kekuasaan, atau berani menantang dan melawan dengan segala atribut yang dimiliki manusia itu! Sebalinya, keberanian yang tertinggi adalah keberanian untuk sama sekali tidak memakai atribut-atribut, termasuk kekuasaan, kemampuan, derajat, bahkan meninggalkan semua itu menuju keutuhan diri dan pencapaian identitas diri yang utuh untuk kemudian dilekatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sederhananya, si Bunglon menjadi hijau di medan yang hijau, menjadi hitam di medan yang hitam, menjadi tidak terlihat dan samar-samar keberadaanya, bukan untuk cari untung, bukan untuk sebuah tujuan pragmatis. Tapi sebuah upaya pribadi manusia Sunda untuk sebuah kesetaraan. Hidup itu harus berani, termasuk berani untuk meninggalkan ego diri demi welas asih, yakni demi kemanusiaan (sesama) dan demi sebuah bangsa. Hidup itu tidak boleh munafik oleh karena pangkat dan derajat, tinggalkan selubung dan jubah kebesaran itu yang menyebabkan kita tidak bisa setara dengan sesama, itulah makna yang hakiki dari si Bunglon. Si Bunglon menjadi hijau di tempat hijau, menjadi hitam di tempat hitam, dipandang sebagai sebuah keberanian hidup untuk meninggalkan segala atribut-atribut yang melekat pada diri manusia yang menyebabkan dia tidak/enggan bersatu dan bersekutu dengan sesama. Karenya sekali lagi apa yang si Bunglon contohkan, menjadi tamparan keras bagi kita manusia yang lebih senang berlindung pada apa yang melekat pada diri kita, kita takut, dan kita pengecut, itulah kenyataannya. Kita manusia yang sulit untuk berani menegakkan ciri manusia itu,terutama welas asih. Karena kita takut, bahkan kita takut untuk mengakui ketakutan itu ada pada diri kita. Dengan cepat kita memutarbalikan keadaan dan menjadi penindas bagi sesama. Kita memaksa sesama kita untuk melakukan apa yang kita mau, lalu kita sebut itu hukum, kita sebut itu adat, kita sebut itu budaya! Inilah perlawanan dan penolakan pikiran Sunda terhadap dehumanisasi yang didasari pada pragmatisme.

Dengan demikian di dalam lolondokan, kita menemukan bahwa welas asih bukanlah sebuah puisi cinta semata, bukan juga sebatas kata-kata indah, dan bukan sebuah romantisme saja!  Welas asih itu membutuhkan pengertian dan inteletual namun di sisi lain, welas asih menuntut sebuah keberanian yang melahirkan sebuah tindakan, tindakan yang mampu untuk menerobos segala sekat-sekat dan dinding-dinding pemisah diantara manusia dimana kita tidak bisa lari dari tugas dan tanggungjawab kita pada sesama.

Si Bunglon hijau di tempat hijau dan hitam di tempat hitam karena sebuah observasi pada realitas. “Tengoklah ke kiri dan ke kenan di mana Engkau berada, dan jadilah seperti itu.” Itulah wejangan dari si Bunglon. Tengoklah saudaramu yang hidup dalam kemiskinan, mungkinkah dan tegakah engkau hidup dalam kekayaanmu sendiri sedangkan saudaramu terbaring lemah dalam kelaparan? Tengoklah saudaramu yang masih bodoh, mungkinkah kamu menganggap dirimu hebat sementara saudaramu hidup dalam kebodohan? “Mungkinkah engkau hidup dengan hijau (subur makmur) kala sesama hidup dalam kelam hitam?Tengoklah, dan hiduplah seperti itu.” Itulah filosofi dari lolondokan. “Kesetaraan” disini adalah kunci dari pemahaman kita terhadap filosofi lolondokan. Perlu sebuah keberanian dan kerelaan yang besar untuk menjadi setara, karenanya ini adalah keberanian tertinggi. Beranikah saya dan anda untuk hari ini meninggalkan apa yang melekat pada diri kita demi saudara-saudara kita? demi sebuah kata "setara" demi sesuatu yang dijunjung yaitu welas asih? Atau kita masih bersembunyi di dalam artribut-atribut yang melekat pada diri kita?

Lolondokan adalah lampah (praksis) dari wujud sebuah pemanusiaan. Manusia tidak bisa hidup hanya karena sebuah konsep. Sebuah konsep sama sekali tidak akan mengubah kehidupan. Sebuah konsep harus diimplementasikan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Karenanya bagi pikiran Sunda lampahlah (tindakan) yang dapat mengubah realitas. Antara konsep atau cara pandang kita terhadap dunia haruslah melekat erat pada realitas yang ada disekeliling kita, dengan demikian kita dapat relevan dengan dunia dimana kita berada, itulah kebijaksanaan hidup. Konsep atau cara pandangnya itu dihasilkan dari obsevarsi kita terhadap dunia dimana kita berada, yakni seperti halnya Si Bunglon yang melihat realitas sekelilingnya yang kemudian ia beradaptasi dengan itu. Demikian juga kita manusia, observasilah, tengoklah, tengok ke kiri dan ke kanan, lihat dimana diri kita berada, dan relevanlah.

Sebuah bangsa yang besar, adalah sebuah bangsa yang berisikan manusia yang saling memanusiakan. Adapun manusia itu haruslah berani, berani dalam segala hal, termasuk berani untuk melihat kelemahan yang ada pada dirinya, dan berani untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya. Kelangsungan dari bangsa Indonesia ini pun terletak pada manusia yang ada di dalamnya. Apakah kita termasuk dalam jajaran manusia pemberani? Pemberani untuk menegakan ciri dan nilai dari manusia itu? Ataukah kita hanya hidup secara pragmatis saja demi keamanan dan kenyamanan kita? kita menutup mata dari realitas dimana kita berada? Hendaknya ini menjadi perenungan kita.


Kelangsungan dan pergerakan pikiran Sunda terus-menerus diperhadapkan dalam berbagai tantangan. Adapun maju mundurnya filosofi Sunda itu, dikembalikan pada manusia Sunda itu sendiri. Sejauhmana ia mau belajar (ngulik) dan menyadari dirinya dan terus-menerus berwaspada diri. Seorang motivator dunia mengatakan, “keberanian adalah langkah awal untuk mempejari sesuatu, tanpa keberanian kita tidak akan mampu untuk mempelajari nilai-nilai lain.” Tepatlah jika motivasi ini disampaikan di tatar Pasundan. Tepatlah jika motivasi ini dikumandangkan di nusantara kita ini. Dimana kita harus berani menata kembali negeri! Kita perlu bangkit dari trauma historis yang menyebabkan kita tertidur! Kabayan harus disintreuk (disentil) supaya bangun dari tidurnya dan belajar dari “Mbah Bunglon/Londok” untuk tengok kiri dan kanan, tengok ke luar, tengok ke dalam. Akhirnya, saudara-saudaraku sebangsa dan senegara, tengoklah dan relevanlah...!!!

Minggu, 25 Mei 2014

Ngadu Bako...

Dalam bahasa Sunda tersimpan banyak undak-usuk basa yang tak jarang maknanya tidak diketahui atau sudah mulai dilupakan. Padahal salah satu identitas dan ciri khas dari suatu bangsa menurut orang Sunda sendiri adalah bahasa. Ciri khas bahasa Sunda adalah pemaknaan suatu kata secara luas. Pemaknaan dan penempatan kata ini menurut salah seorang ahli bahasa dan sejarah terdiri dari 16 tingkat. Tentu saja jika ke-16 tingkat ini dipaparkan di dalam blog ini akan menjadi upaya yang sangat melelahkan. Oleh karena itu dalam blog ini hanya akan menerangkan mengenai judul yang tertera di atas, yakni salah satu undak-unduk basa dalam bahasa Sunda, ngadu bako.

Apa itu ngadu bako? Secara hurufiah ngadu = berarti bertarung/tanding, bako = tembakau. jadi sederhananya ngaduku bako dapat diartikan bertarung tembakau. Sedangkan jika diterapkan kata kerja nga = me, pada kata bako, jadi ngabako berarti merokok tembakau. Jadi apa bedanya ngaduk bako dan ngabako itu? untuk itu mari kita telusuri bersama!

Dikalangan orang Sunda jaman dulu menanam, membudidayakan, dan menggunakan tembakau sebagai rokok sudah dikenal luas. Merokok tembakau merupakan suatu kebiasaan atau sebuah tradisi masyarakat secara umum. Merokok tembakau pun menjadi suatu kebiasaan yang sangat merakyat atau dapat dikatakan menjadi ciri sebuah perkumpulan “masyarakat” atau “rakyat”. Merokok tembakau, atau kita sebut dengan istilah ngabako adalah sebuah perlambangan dari sebuah kesederhaan dari sebuah gaya hidup seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat. Ngabako biasanya dilakukan disela-sela sebuah pekerjaan, atau dikala sedang “santai”. Intinya ngabako adalah suatu kegiatan yang “santai.” Sederhananya ngabako mungkin dapat disamakan dengan “ngopi.” Berbagi bako pun di kalangan masyarakat adalah suatu hal yang biasa. Saling berbagi (mencicipi) bako nya masing-masing untuk melihat selera dan kebiasaan teman atau siapapun adalah suatu hal yang biasa. Itu dapat kita sebut dengan ngadu bako. Jadi singkatnya ngadu bako itu berarti saling mencicipi bako. Di dalam ngabako dan ngadu bako tersebut selalu diselingi dengan suatu perbincangan.

Seiringnya penggunaannya, kedua kata ini memiliki perluasan makna. Ngabako diartikan sebagai suatu perbicangan yang tidak ada arti dan gunanya. Ngabako berarti sebuah pembicaraan yang hanya omong doang. Ngabako juga dapat diartikan berbohong, membicarakan sesuatu yang tidak benar adanya yang tidak jelas juntrungan dari suatu perbincangan. Ngabako berarti berbicara dari sudut pandang sendiri (searah). Sedangkan ngadu bako dapat diartikan sebagai dialog terhadap sebuah wacana atau khasanah sebuah pemikiran. Karena itu adalah sebuah dialog, maka ada suatu komunikasi dua arah yang saling mendengarkan/memperhatikan dan saling mengutarakan pendapat masing-masing.

Ngadu bako adalah istilah untuk sebuah upaya saling memahami. Di dalam masyarakat Sunda tempo dulu, semenjak kerajaan-kerajaan Sunda mulai berdiri kebiasaan ngadu bako sudah dikenal. Bahkan dapat dikatakan bahwa ngadu bako adalah salah satu cara sederhana untuk dapat memahami dan menjadi manusia yang mengarahkannya pada pemahaman suatu bangsa dan suatu tatanan suatu kerajaan (negara). Karenanya kita mengenal istilah “ngadu bako silihwangi”. Ngadu bako silihwangi ini adalah sebuah upaya yang dilakukan pemerintahan kerajaan Sunda pada masa pemerintahan raja Siliwangi yang kala itu sudah mampu mempersatukan kembali kerajaan Sunda yang sudah sempat terpecah. Sehingga kejayaannya dapat disamakan dengan kejayaan raja sebelumnya (kakek Prabu Siliwangi, yakni Prabu Wangi). Karenaya nama Prabu Silihwangi sebenarnya adalah sebuah julukan. “silih” = pengganti. “Wangi” = merujuk pada prabu Wangi, jadi dapat diartikan pengganti/penerus Prabu Wangi. Bagaimana upaya Prabu Silihwangi tersebut?

Untuk membangun kerajaannya salah satu upaya yang terbilang sangat sederhana adalah melalui ngadu bako, dimana para prajurit kerajaan diutus ke berbagai penjuru dan pelosok seputar daerah kekuasaan kerajaan Sunda kala itu, untuk tinggal diantara masyarakat (rakyat). Apa yang mereka lakukan? Sangat sederhana, yang mereka lakukan hanya berbagi bako. Berbagi bako disini tidak hanya saling mencicipi tembakau secara harfiah, tapi juga berbagi pandangan secara sederhana dan merakyat. Sehingga para prajurit tidak hanya dilatih secara militer saja, tapi juga dituntut suatu pemahaman dan pengertian yang luar terhadap sebuah tatanan baik itu tatanan kemanusian dan juga kenegaraan.

Ngadu bako adalah kegiataan yang sangat sederhana dan santai, pembicaraannya pun dapat dimulai dengan pembicaraan yang sangat sederhana. Dimulai dari kehidupan pribadi, yakni masalah-masalah yang dihadapi, cara pengambilan keputusan terhadap sebuah kehidupan, atau apa pun. Yang kemudian pembicaraan itu dapat meluas dan mendalam sampai kepada makna manusia dan hubungannya dengan sebuah kerajaan atau negara. Ngadu bako adalah upaya untuk saling belajar, saling mengerti satu sama lain. Ngadu bako adalah upaya untuk mendalami sebuah kehidupan secara merakyat. Ngadu bako adalah kesempatan rakyat untuk mengutarakan pandangan-pandangannya terhadap segala sessuatu, baik itu tentang sebuah kehidupan, tananan masyarakat, atau kerajaan. Ngadu bako adalah sarana bagi prajurit untuk dapat mendapatkan informasi dan keragaman pikiran dari masyarakat tentang hidup, baik itu tentang sebuah pola dalam masyarakat atau sebuah pemahaman terhadap sebuah kerajaan yang nantinya akan kembali dilaporkan kepada kerajaan demi kelangsungan dan kemajuan dari kerajaan tersebut. Karenanya ngadu bako kala itu menjadi salah satu cara untuk menampung aspirasi dari rakyat. Ngadu bako silihwangi dapat berarti dialog yang saling mengharumkan/memajukan (silih =saling, wangi =harum) antara rakyat dan kerajaan/negara.

Ngadu bako dapat juga berarti proses pendidikan dua arah, yakni antara rakyat-kerajaan/negara. Antara rayat yang belajar secara informal melalui kehidupan sehari-hari, dan prajurit yang memang dilatih secara khusus dididik di sekolah kerajaan, untuk dilihat kesatuan dan keutuhannya, untuk dilihat hubungan antara sebuah teori atau bahkan ideologi dengan kehidupan praksis. Apakah semuanya itu sesuai atau bahkan bertolak belakang? Ngadu bako dapat berarti upaya untuk saling menegakan ciri dari seorang manusia, dan ciri dari sebuah bangsa. Apa dan bagaimana itu?

Ciri manusia menurut pikiran Sunda terdiri dari 5 aspek, yakni: 1. Welas asih (Kasih sayang), 2. tatakrama (etika berprilaku), 3. Undak-usuk (etika berbahasa), 4. Budi daya budi basa (penghatayatan dan pemaknaan terhadap sebuah pekerjaan dan bahasa) , 5. Wiwaha Yuda Na Raga (“Ngaji Badan” membaca dan memahami sebuah tatanan [ekosistem/tubuh] secara utuh). Ciri bangsa menurut pikiran Sunda terdiri dari 5 aspek, yakni : 1. Rupa (wajah, terkandung di dalamnya arah dan pandangan), 2. Basa (bahasa), 3. Adat (tradisi) 4. Aksara (tulisan), 5. Kebudayaan.

5 hal di atas ini dapat kita lihat secara simbolik melalui kujang (senjata khas Sunda) dimana kujang memiliki 5 titik. Maka demikian  5 hal di atas menjadi sesuatu yang perlu untuk ditegakan/dipelihara oleh setiap orang Sunda. Upaya “saling” (silih asih, asuh, asah) menjadi kunci dari bagaimana orang Sunda itu berhubungan. Ngadu bako adalah salah satu media untuk saling memanusiakan dimana di dalamnya terkandung welas asih, tatakrama (tata =tataman, semut) yakni saling menghargai dan menghormati baik di dalam keberbedaan dan kesaamaan masing-masing, undak-usuk yakni pemaknaan dan keluasan dari sebuah bahasa, budi daya budi basa yakni penghayatan terhadap sebuah pekerjaan dan bahasa, dan wiwaha yuna na raga yakni upaya untuk memahami suatu tatanan secara utuh. Yang kemudian bukan hanya memanusiakan seseorang atau sekelompok manusia, tapi manusia-manusia itu pun pada akhirnya akan membentuk atau melahirkan suatu bangsa dimana suatu bangsa memiliki rupa suatu wajah yang didalamnya terkandung suara arah dan pandangan atas hidup, bahasa, adat atau tradisi, aksara atau tulisan, yang dikemas dalam sebuah kebudayaan.

Dengan demikian sampailah kita pada sebuah kesimpulan bahwa dalam kesundaan, Ngadu bako atau dialog (sederhana diantara masyarakat jelata) dianggap sebagai sebuah metode/cara untuk menegakan manusia dan bangsa. Sehingga manusia itu tidak bisa berdiri hanya menurut pandangannya saja, dan suatu bangsa itu berdiri tidak bisa menurut keinginan dan kehendak dari penguasanya saja. Suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang saling memanusiakan, dan manusia yang saling memanusiakan pada akhirnya akan membentuk suatu bangsa yang besar.


Sampailah kita pada kesadaran bahwa betapa beragamnya suku bangsa dan bahasa yang ada di Indonesia ini. Rasanya bukanlah sebuah arogansi ketika kita mengatakan bahwa negara kita Indonesia adalah sebuah negara yang besar dan kaya. Namun kebesaran dan kekayaan itu akan sirna jika tidak ada manusianya, kebesaran dan kekayaan itu tidak akan menjadi apa-apa tanpa manusia. Karenanya marilah kita saling memanusiakan! Marilah kita berdialog! Marilah kita saling memahi dan mengenal. Bukankah suatu kebahagiaan ketika kita dapat saling mengenal dan saling memahami?

Selasa, 20 Mei 2014

Kabayan Si Penyesat?

[intisari dari cerita si Kabayan ngala suluh]
Haha, apalagi yang dibuat si Kabayan kali ini? Setelah si Kabayan mengajak kita untuk berwaspada diri untuk melihat hidup secara utuh, rupaya tak puas juga ia berkelanan di pikiran kita. Kali ini si Kabayan hendak ngetes kita! bagaimana itu? beginilah ceritanya...

Suatu hari si Kabayan diajak oleh mertuanya si Abah untuk mengambil kayu bakar di hutan. Sore itu Abah mertua Kabayan datang ke rumah Kabayan.
Abah: “Kabayan besok kita ke hutan, kita ambil kayu bakar ya!”
Kabayan : “Siap Bah!”
Begitulah jawab si Kabayan. Padahal sebenarnya si Kabayan malas untuk pergi ke hutan, maka ia berusaha mencari akal untuk menggagalkan rencana ke hutan. Akhirnya terpikirlah suatu ide cemerlang. Sore itu juga si Kabayan bergegas pergi ke pasar membeli macam-macam buah-buahan. Pagi-pagi benar si Kabayan bangun. Sebelum orang lain bangun si Kabayan sudah bangun duluan. Padahal sehari-hari si Kabayan selalu kesiangan. Pagi itu si Kabayan bergegas membawa buah-buah yang kemarin sore ia beli dari pasar ke jalan sepanjang jalan menuju ke hutan. Si Kabayan menyimpan buah-buah tersebut di tempat-tempat tersembunyi secara terpisah, diakhiri dengan senyum kecil si Kabayan berkata dalam hatinya, “Haha, pasti berhasil. Dijamin moal jadi ka leuweung teh [dijamin tidak akan jadi pergi ke hutan]” kemudian si Kabayan kembali ke rumah dan pura-pura tidur.
Pagi itu Abah memanggil si Kabayan, “Kabayan, Kabayan bangun! Ayo kita berangkat!”
Si Kabayan segera bangun dan menjawab, “Iya bah. Ayo!”
Maka berangkatlah Abah dan si Kabayan menuju hutan. Perjalanan belum jauh dari rumah, tiba-tiba si Kabayan berhenti dan mengendus-ngendus. Kata Abah, “Heh Kabayan kenapa kamu?” Jawab si Kabayan, “Sebentar bah, saya mencium ada bau buah sawo nih!” “Ah yang benar kamu Kabayan?” Kata Abah dengan ragu. Lalu si Kabayan bergegas seolah-olah mencari dimana lokasi buah sawo itu berada, ia mengelilingi pohon-pohon dan rerumputan di sekitar jalan itu. masuklah si Kabayan ke salah satu rerumputan yang tinggi. Lalu ia berteriak, “Nah, ini dia sawonya!” Abah yang heran dengan tingkah si Kabayan berusaha melihat dari kejauhan apa yang dilakukan si Kabayan, tidak jelas apa yang dilihat Abah, maka Abah memanggil si Kabayan, “Ke sini Kabayan, apa itu yang kamu bawa?” si Kabayan berlari menghadap Abah dan berteriak-teriak kegirangan, “Abah-Abah, ini saya menemukan sawo. Ayo kita makan dulu!” Abah yang semula ragu kini mula percaya pada si Kabayan. “Wah, rupanya bagus juga penciuman kamu kabayan! Ya sudah kita nikmati dulu saja sawo ini.” maka sejenak mereka berhenti dari perjalanan dan hendak menikmati sawo temuan si Kabayan tersebut. Kemudian tak lama mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Tiba-tiba tak lama setelah itu di tengah jalan si Kabayan berhenti lagi, dan mulai mengendus-endus lagi. Dia berhenti dan mulai mencari lagi. “Apa lagi Kabayan? Tanya Abah. “Sebentar bah, saya mencium ada bau buah nangka.” Jawab si Kabayan. “Ah yang benar kamu kabayan? Coba cari siapa tahu aja benar!” kini si Abah menyuruh si Kabayan untuk mencari. Masuklah si Kabayan ke semak-semak dan ia kembali berteriak, “Nah ini dia nangkanya.” Kemudian nangka itu dibawa ke hadapan Abah. “Bah ini nangkanya, mari kita nikmati dulu!” begitulah kata si Kabayan. Si Abah senang dengan temuan nangka si Kabayan itu, dan kemudian mereka menghentikan perjalanan untuk sejenak melahap nangka temuan si Kabayan itu.
Setelah kenyang oleh sawo dan nangka mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama setelah itu, bahkan masih jauh perjalanan mereka menuju hutan, lagi-lagi si Kabayan berhenti, dan mengedus-endus lagi. Abah kini tak ragu lagi! “Apa lagi yang kamu cium kabayan?” “Ada bau buah mangga nih bah.” Jawab si Kabayan. “Cepat cari, wah kita beruntung nih.” Kata Abah girang dan hendak menantikan temuan buah mangga si Kabayan. Lagi-lagi mereka menghentikan perjalanan untuk sejenak menikmati temuan buah mangga itu.
Kali ini benar-benar Abah sudah terperangkap dengan tipuan si Kabayan. Ketika mereka hendak meneruskan perjalanan tiba-tiba si Kabayan berhenti dan mengendus-endus lagi. Kali ini bukan lagi tidak ragu, tapi si Abah sudah yakin benar dengan penciuman si kabayan, spontan saja Abah bertanya, “Apa yang kamu cium sekarang Kabayan?” si Kabayan berkata, “Sebentar bah, ini baunya agak aneh.” Abah penasaran dan menunggu jawaban selanjutnya dari si Kabayan. “Wah bah, ini bahaya, kalau ini bau Harimau bah!” kata si Kabayan. “Wah, bahaya Kabayan, kalau begitu kita sekarang tidak usah ke hutan, kita pulang saja. Ayo cepat kita pulang Kabayan!” lalu dengan semangat si Kabayan pulang menuju rumah. Rencananya untuk menggagalkan perjalanan berhasil. Demikianlah mereka tidak jadi meneruskan perjalanan mereka, dan mereka kembali ke rumah tanpa hasil apapun.
Begitulah akal bulus si Kabayan menipu mertuanya, si Abah.

Apa maksud dari cerita ini? Cerita ini barangkali adalah sebuah ujian atau sebuah tes dari keprihatinan si Kabayan melihat hidup (dalam artikel saya yang sebelumnya yang berjudul Si Kabayan Manggih Mudun? [untuk melihat klik disini]). Sebuah tes bahwa setiap kita perlu waspada dengan “pudunan” (kenyamanan) yang membuat kita terlena dengan kenyataan yang sesungguhnya. Bahwa hidup perlu untuk betul-betul dihidupi dan bukan hanya menerima “apa kata orang”. Kenyataan yang perlu kita lihat bahwa sebenarnya manusia tidak selalu memanusiakan sesamanya! Kenyataan dimana kita tidak boleh naif melihat dunia! Si Kabayan mengajarkan kita suatu kenyataan yang patut kita sadari betul bahwa diantara kita manusia ada sifat untuk membodohi sesama. Kenyataan inilah yang membawa kita pada sebuah kesadaran dan kewaspadaan bahwa hidup itu sungguh-sungguh perlu dipelajari dan dihayati.
Cerita sederhana ini menerangkan bagaimana pemikiran sunda sejak dulu sudah menyadari bahwa proses pemanusiaan adalah proses yang tidak mudah. Manusia memiliki kecenderungan untuk berkuasa, untuk mengotrol sesamanya. Dan dalam hal ini apa yang melekat pada manusia itu, termasuk akal dan alam pikirnya mungkin saja menjadi alat untuk menjalankan keinginan dan tujuannya tersebut! Berkuasa di sini tidak selalu diartikan memenggan suatu status sosial atau kuasa sebagai pemerintah, tapi jauh dari itu, secara perlahan menyuntikan keyakinan palsu, kebohongan, tipu muslihat dst, adalah bentuk dari kuasa yang tidak terlihat. Penindasan pada nilai-nilai kemanusiaan terdiri dari berbagai macam manifestasi. Pengabaian pada kemanusiaan hendaknya jangan dilihat dari kulitnya saja, tapi juga dilihat dari isinya.
Melalui cerita singkat ini, kita dapat melihat bagaimana kecerdikan dari si Kabayan yang diramu sedemikian rupa menjadi sebuah proses penyuntikan “keyakinan palsu” pada Abah, menyebabkan Abah berada dalam kontrol si Kabayan. Maka demikianlah kata orang Sunda, jika hidup tidak sungguh-sungguh dipelajari sebenarnya kita ini adalah manusia yang mudah untuk dikelabui. Maka selalu berlaku hukum yang cerdik yang menjadi tuan atas yang bodoh. Karenanya dalam pemikiran sunda kembali ditekankan bahwa hidup jangan puas hanya karena “apa kata orang.” Tapi pelajari dan alami! Di sini pemikiran Sunda melihat hubungan antara sebuah teori dan praksis sebagai sebuah kesatuan, dimana teori haruslah terdiri dan teruji dari praksis dan praksis itu yang telah diuji menghasilkan sebuah teori. Sehingga hubungan teori dan praksis menjadi sebuah siklus pemikiran yang selalu berputar dan selalu mengalami pemaknaan baru (revisi) sesuai dengan pendalaman setiap orang secara personal. Yang “bodoh” harus menyadari bahwa ia adalah “bodoh” sehingga mendorongnya untuk belajar dan membawa dirinya “keluar” dari ke-bodoh-annya. Sehingga ia dapat menangkis bahkan melawan kecerdikan orang yang hendak menindasnya. Karenanya sudah menjadi peran dan tugas penting bagi setiap “orang bodoh” untuk bangkit dan menyadari kondisinya agar terbebas dari penindasan menuju pada kemanusiaan yang seharusnya. Kebodohan dalam kesundaan adalah sesuatu yang harus dihindari dan dilawan, karena pada dasarnya kebodohan menjadi sebuah “celah” /kesempatan untuk sebuah penindasan dan pengabaian pada kemanusiaan!

“Bodoh” dalam bahasa sunda memiliki sekurang-kurangnya memiliki dua istilah, 1) bodo katotoloyo (sungguh-sungguh bodoh/bodoh karena tidak bertanya) 2) bodo alewoh ([terlihat]bodoh karena banyak bertanya). Bodoh yang kedua inilah yang disarankan. Artinya merasa “bodoh” itu penting, karena dengan merasa bodoh ada keinginan untuk bertanya, ada keinginan untuk belajar! Setidak-tidaknya dengan bertanya seseorang dapat mengetahui sesuatu yang hendak ia ingin tahu. Tapi jika seseorang tidak punya pertanyaan, tidak tahu apa yang dia tidak tahu, maka tidak akan ada jawaban, ia tidak akan mendapatkan apa-apa! Sangat sederhana. Kesadaran pada hal inilah yang akan menjauhkan setiap individu pada penindasan dan cengkraman dari penguasa.

Sampailah kita pada pertanyaan klasik ini, apakah alasan manusia memiliki sifat untuk menindas/mengontrol sesamanya? Bagi pikiran Sunda, jawabannya sangat sederhana. Karena manusia malas! Manusia malas untuk bekerja, manusia lebih suka mempekerjakan. Manusia malas untuk diajak maju, manusia lebih suka duduk manis di singgasananya! Singgasana si Kabayan adalah tempat tidurnya. Ia lebih cinta tepat tidurnya dari pada sebuah pekerjaan yang jelas-jelas akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi keluarganya. Lebih mudah baginya untuk menggunakan akal dan pikirannya untuk menggagalkan rencana abahnya ketimbang membantu pekerjaan abahnya tersebut. Segudang ide-ide cemerlang untuk mengelabui dan menipu lebih mudah membanjiri pikiran dari pada sepercik alam pikir yang memanusiakan melintasi pikiran.
Usaha pemanusiaan bukanlah usaha seorang diri, memang betul usaha pemanusiaan itu selalu dimulai dari diri sendiri, tapi itu juga adalah sebuah usaha “silih” (saling), disinilah falsafah sunda silih asih, asuh, asah, dimaknai secara mendalam. Usaha memanusiakan diri dan sesama adalah usaha bersama dimana di dalamnya terkadung nilai-nilai luhur atas hidup bahwa dalam hidup perlu ada hubungan yang salih mengasihi, saling mengasuh (mendidik), saling mengasah (menguji), dengan keadaan demikian kita dapat tumbuh menjadi manusia sebagaimana yang seharusnya manusia itu berada. Cerita si Kabayan menjadi sebuah sindiran dan kritikan atas hidup yang tidak saling, sikap yang berjalan masing-masing, sekalipun pintar, cerdik dll, kalau tidak ada sikap saling, maka tidak akan ada “juntrungannya”.

Dalam tawanya si Kabayan dia terbahak-bahak menertawakan kebodohannya, mungkin juga dia menertawakan kebodohan kita, dan dalam ratap tangisnya ia menangisi “kemapanan” kita yang kita sembah sebagai dewa, sumber dari segala kenyamanan kita! Dalam tawa dan tangisnya, si Kabayan mengingatkan kita bahwa kita perlu banyak belajar untuk melihat dan menilik hidup ini secara utuh. Kali ini dengan polahnya, dia menyesatkan kita untuk mengembalikan kita pada sebuah kesadaran!


Bagaimana pun ini hanyalah sebuah cerita, tidak terlalu penting lagi bagaimana cerita ini berlanjut. Tapi bukanlah di dalam dunia nyata kita menghadapi situasi yang lebih mengerikan dari pada ini? Kisah si Kabayan ini hanyalah menjadi sebuah kisah komedi yang barangkali menghibur pikiran kita. Tapi bagaimanakah dengan hidup kita sekarang? Bukankah hidup kita sekarang pun menjadi sebuah komedi kehidupan? Di mana sebenarnya kita menghadapi situasi yang sama dengan berbagi macam manifestasi penindasaran dan dehumanisasi yang jauh lebih “canggih” dan bervariasi? Kemanusiaan menjadi sesuatu yang sangat mahal untuk diperjuangkan. Kemanusiaan menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk diraih. Hampir di setiap lini kehidupan kita diperhadapkan dengan berbagai macam penindas manusia. Malam ini, tulisan ini belum selesai, dan masih mempertanyakan itu semua..

Sabtu, 17 Mei 2014

Si Kabayan Manggih Mudun?

Kabayan..kabayan, dasar si Kabayan tak hentinya ia membuat orang heran oleh tingkahnya. Ia tidak bisa menerima sesuatu begitu saja. Tidak cukup rasanya bagi Si Kabayan jika hanya hidup “biasa” seperti orang lain. Bukan si Kabayan jika polahnya tidak membuat orang lain bertanya, heran, atau mungkin kesal. Entah mengapa Si Kabayan menjadi tokoh fiktif yang selalu “asik” dan nyentrik dengan segala yang melekat padanya.
Suatu kegiatan yang barangkali sangat biasa dilakukan setiap hari. Bahkan mungkin banyak orang tidak mempermasalahkan itu. tapi, sekali lagi bagi si Kabayan rupanya jadi perkara yang tidak biasa. Apa itu? itulah dimana saat si Kabayan “manggih mundun dan manggih nanjak” atau dalam bahasa Indonesia pada saat si Kabayan menemukan (jalan) turunan dan tanjakan!
Memang terbalik si Kabayan meresponi hidup ini. Pada saat ia menghadapi “pudunan” (turunan) si Kabayan bersedih/menangis. Tapi pada saat ia melihat tanjakan ia malah senang dan semangat. “Gelo” memang, umumnya orang senang kalau melewati turunan, karena tentulah jalannya menjadi mudah. Dan orang merasa capek atau mengeluh ketika menghadapi tanjakkan karena jelas jalan menanjak membutuhkan tenaga ekstra untuk melewatinya. Setiap kali si Kabayan dalam perjalanannya menemukan turunan ia selalu bersedih dan menangis, tapi setiap kali ia menemukan tanjakan ia senang dan semangat. Itulah salah satu cerita singkat yang diceritakan orang tua Sunda pada anak-anaknya.


“Lamun hirup kudu jiga si Kabayan. Lamun manggih mudun ulah babari atoh, tapi kudu ceurik sabab engke bakal manggih nanjak. Tapi lamun manggih nanjak kudu bagja, sabab engke bakal manggih mudun.”
Dalam bahasa Indonesia berarti, “Kalau hidup harus mencotoh si Kabayan. Kalau menemukan jalan menurun jangan cepat senang, tapi harus menangis sebab nanti akan menemukan tanjakan. Tapi, kalau menemukan tanjakan harus senang sebab nanti akan menemukan turunan.

Hidup adalah sebuah perjalanan, barangkali inilah kalimat yang paling mewakili definisi hidup dalam khasanah berpikir a la Timur. Perjalanan dalam hidup tidak hanya terdiri dari jalan lurus saja, ia juga terdiri dari berbagai macam kelok-kelokan, naik-turun, jatuh-bangun, dst, dan itulah yang membuat hidup itu menjadi berharga untuk dipelajari. Demikian juga dalam kesundaan, hidup itu dipandang sebagai sesuatu yang harus dipelajari dan dialami sendiri, bukan hanya “katanya”. Hidup tidak cukup menerima “apa kata orang”, untuk sampai pada sebuah kemenangan / kebahagiaan (kaluginaan) seseorang haruslah menemukan identitasnya dalam hubungannya dengan sekelilingnya, baik itu hubungan dengan dirinya sendiri, sesama, dan alam di mana ia berada.
Namun demikian, kita adalah manusia yang sering keliru melihat realitas. Itulah kata Si Kabayan. Kali ini si Kabayan tidak hanya mengajak kita tertawa untuk sejenak menertawakan hidup ini, tapi Si Kabayan juga ingin mengajak kita untuk sejenak menangisi hidup ini. mengapa demian? Apa maksud dari sempalan di atas? Sederhananya, sempalan singkat ini mengajak khayalak untuk lebih cermat dan berhati-hati dalam menilik dan menilai hidup. Pandangan dan pengalaman manusia perlu dilihat dari berbagai sisi secara utuh dalam kesatuan. Maksudnya dalam penilaian dan keputusan etis dalam hidup kita tidak bisa hanya melihat satu titik peristiwa saja, tapi kita perlu melihat hidup keterhubungan dari setiap peristiwa. Si Kabayan mewanti-wanti kita supaya kita jangan tertipu!

Mari berwapada diri...
Hidup secara alamiah terdiri dari berbagai macam hal yang bisa dirasakan, singkatnya rasa itu terdiri rasa yang kita senangi dan rasa yang tidak kita senangi. Yang kita senangi sering kita sebut dengan kebahagiaan (kabagjaan) dan yang tidak kita senangi disebut penderitaan (kasusahan). Si Kabayan di sini mengajak kita untuk berwaspada, untuk terlebih dahulu mengamati dan meneliti bagaimana “jalan” –nya hidup. Bukan hanya menikmati hidup, tapi melihat bagaimana hidup itu bergulir. Di sini kita melihat bahwa dalam pemikiran Sunda hidup dipandang sebagai sebuah siklus, seperti sebuah roda yang berputar dan bukan sebagai sebuah garis lurus, linear. Si Kabayan melalui cerita singkatnya ini hendak mengajak kita keluar sejenak dari hidup kita yang sementara ini untuk melihat keutuhannya.
Berwaspada diri berarti di dalamnya termasuk berwaspada pada kenyamanan yang sedang dialami, barangkali itu adalah awal dari sebuah penderitaan, kenyamanan yang membawa pada kesulitan dan kemandekan di masa yang akan datang. Manusia tidak boleh cepat puas dengan keadaannya sekarang. Jika hari ini ia mengalami berbagai macam kemudahan ia perlu mengoreksi dirinya, bahkan ia perlu meratapi dirinya, barangkali apa yang di dapatnya kini akan membawa dirinya dan generasi-generasi di bawahnya pada kesukaran. Karenanya ketika “si Kabayan manggih mundun” ia menangis bahkan ia meratap. Bagaimana mungkin seorang yang “bodoh” dapat melakukan hal itu? coba kita renungkan sejenak. Tentulah ini bukanlah proses pemikiran yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar bodoh. Sebaliknya, ketika “si Kabayan manggih nanjak ia bagja”, ia bersemangat untuk mendaki karena ia percaya setelah ia mendaki, di depan sana ia akan mendapatkan kelegaan, di depan sana akan ada sebuah turunan yang bisa dia nikmati! Ia meyakini sebuah proses kehidupan selalu mengalami pembentukan. Pembentukan itu terdiri dari berbagi macam kesulitan dan kesukaran, disitulah bukan hanya fisik, tapi semangat hidup, juga nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya seperti kesabaran, ketabahan, kebaikan, dst tumbuh dan berkembang yang akhirnya berperan penting dalam memberikan pandangan terhadap hidup yang jauh lebih luas dan dalam.
Disinilah filosofi Sunda, “Moal meunang perah lamun teu peurih.” [Tidak akan memiliki kekuatan (bisa/racun) jika tidak mengalami penderitaan] meresap dan tertanam. Dengan demikian pandangan sunda terhadap hidup adalah “memikirkan-kembali” dan bukan hanya “memikirkan-ke-depan.” Apa bedanya? Di dalam “memikirkan-ke-depan” orang biasanya cenderung pada kemajuan saja, etah seperti apa kemajuan itu, yang penting dipandang lebih baik dari hidup yang sebelumnya, tanpa kembali mengoreksi kelayakan dan kepantasan dari hidup itu sendiri. Berbeda dengan “memikirkan-kembali” disini bukan hanya kemajuan, tapi kesadaran pada pemaknaan atas keutuhan hidup itu sendiri. Kita tidak bisa berpuas diri hanya karena kita merasa, “ah sekarang saya sudah puas karena saya sudah lebih kaya dari sebelumnya.” Atau lebih populer atau lebih bijak, dst. Jika demikian kata si Kabayan, “Apa artinya hidup? hidup bukanlah dari miskin menjadi kaya, bukan dari tidak punya menjadi punya! Si Kabayan hanya akan meratapi “pudunan” yang sedang kita nikmati kini! Hidup tidak boleh “mandek” pada satu sisi, kita tidak boleh cepat puas baik itu pada keadaan politik, ekonomi, sistem atau pada suatu keadaan tertentu yang kita alami. Hidup itu perlu dipikirkan kembali, hidup itu perlu diwaspadai! Jalannya hidup itu seperti sebuah roda yang berputar, ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Yang mana yang lebih baik? Yang mana yang benar? Tidak ada dikotomi antara keduanya. Keduanya adalah sebuah kesempatan dan peluang untuk belajar lebih mengerti hidup ini. keduanya adalah sebuah keutuhan yang tidak bisa dipisahkan sebagai sebuah proses pemahaman atas betapa berharganya sebuah kehidupan! 

Kabagjaan berbeda dengan kalugunaan. Kabagjaan adalah sebuah kesenangan, kondisi yang diharapkan manusia. Hanya mengejar kabagjaan dalam hidup berarti menikmati hidup yang berat sebelah. Sedangkan kaluginaan adalah sebuah kecukupan hidup atau hidup yang tak berkekurangan. Dengan kata lain, kabagjaan berasal dari sebuah pandangan hidup yang mengarahkan diri pada hal-hal yang disenangi saja, sedangkan kaluginaan berisi sebuah pemaknaan atas keutuhan hidup dimana di dalamnya terkandung adanya “puduhan” dan “tanjakan” sebagai sebuah kecukupan hidup. Kecukupan disini berarti sebuah kesadaran pada pemenuhan identitas diri atas hubungan personal seseorang dengan sekelilingnya. Karenanya si Kabayan yang dikatakan “bodoh” tidak hanya mengajak manusia untuk sekadar melakukan dan mengejar apa yang disukai saja, tapi jauh dari itu, Si Kabayan mengajak kita untuk melihat hidup di dalam kecukupannya, yakni di dalam keutuhan dan kesatuannya di dalam hubungan-hubungan yang melekat padanya sebagai sebuah pencapaian pada penemuan identitas diri (mampunya kuring keluar dari kurung). Bagi si Kabayan, singkatnya hidup ini perlu untuk dikoreksi, tidak boleh dikelabui oleh keadaan. Jika hari ini kita ada dalam kenyamanan, kata si Kabayan, merataplah! Ketika kita mengalami tantangan, kata si Kabayan, berbahagialah dan nikmatilah! Jangan terkecoh! Hidup perlu dibaca kembali.

Kamis, 15 Mei 2014

Menertawakan Hidup Bersama si Kabayan


Bagaimana orang Sunda melihat kehidupan? Itulah pertanyaan yang muncul dipikiranku, mungkin saat menganjukan pertanyaan ini keningku agak berkerut, dengan wajah yang serius. Seandainya pertanyaan itu diajukan pada tokoh fiktif yang sangat populer dalam cerita Sunda, yaitu si Kabayan. Mungkin Kabayan hanya akan tertawa. Dan saya tidak akan mendapatkan jawaban seperti apa yang saya harapkan! Tapi apakah itu berarti bahwa pertanyaan itu tidak akan terjawab? Belum tentu, mungkin tawanya adalah sebuah jawaban yang dapat meneduhkan pikiranku dan membuatku tertawa juga. Bagaimana sebuah tawa dapat menuntaskan pertanyaan ini? Mari kita simak!

#
Suatu kali, si Kabayan disuruh oleh neneknya untuk mengambil “tutut” (semacam keong sawah = bisa dijadikan makanan, dimasak dengan dibumbui beberapa macam rempah-rempah).  
Kata si Nenek, “Heh Kabayan, cepat bangun, jangan tidur terus! Dari pada tidur cepat kamu ambil tutut di sawah, nenek sekarang mau siapkan bumbunya”
Kabayan, “Iya mak.”
Maka berangkatlah Kabayan menuju sawah dalam keadaan yang masih sempoyongan karena masih mengantuk. Ketika si Kabayan melihat sawah maka ia merasa takut untuk memijak sawah itu. Kenapa ia takut? Rupaya ia takut karena ia melihat pantulan langit pada sawah itu. Karena ada pantulan langit ia berpikir, “wah bahaya nih, rupanya sawahnya ini sangat dalam.” Maka dalam pikirnya tidak mungkin untuk mendapatkan tutut itu dengan mudah. Merasa bahwa sawah itu dalam, dan si Kabayan takut untuk mimijak sawah itu, maka ia pergi ke kebun untuk mencari leuget (semacam perekat dari getah pohon biasanya digunakan untuk menangkap burung), setelah ia mendapatkan leuget, Kabayan merekatkan leuget itu pada sebatang bambu, dengan maksud untuk memancing tutut. Dari pagi Si Kabayan memacing tutut, tapi ia hanya mendapat tidak lebih dari lima buah tutut, itu pun hanya kebetulan saja. Bagaimana mungkin tutut dipancing dengan leuget? Tutut tidak akan mempan untuk dileuget, tiap kali si Kabayan mengarahkan bambu yang sudah dileuget itu, selalu gagal oleh karena tutut memiliki semacam lendir yang licin. Dari pagi sampai sore si Kabayan memancing tutut, tapi ia hanya mendapatkan lima buah saja. Sementara di rumah si nenek sudah kesal menunggu si Kabayan yang tidak pulang. Akhirnya si nenek menyusul si Kabayan ke sawah.
Kata si Nenek, “Heh Kabayan gimana sudah dapat tututnya?
Si Kabayan, “Belum mak, masih sangat sedikit, ternyata susah ngambil tutut itu. Dari pagi sampai sore belum dapat-dapat juga mak.”
Nenek, “Memangnya bagaimana kamu ngambilnya?”
Si Kabayan, “Lihat tuh mak, sawahnya dalam sekali, tidak mungkin saya kesitu, nanti saya tenggelam.”
Si Nenek melihat si Kabayan, “Euh, pantes.” Si nenek jengkel, lalu mendorong si Kabayan ke sawah. Cemplung, si Kabayan terjatuh di sawah.
Si Kabayan, “eh, ternyata dangkal.” Si Kabayan tertawa. Si nenek kesal, lalu meninggalkan si Kabayan “menikmati” kebodohannya.

Itulah sekilas dari salah satu cerita si Kabayan. Cerita si Kabayan adalah Sempalan dari cerita Sunda yang dimaksudkan menyampaikan pesan keSundaan. Mungkin cerita ini terdengar sangat konyol dan lucu, yakni bagaimana sikap hidup si Kabayan yang begitu nyentrik dengan caranya besikap dan caranya bertutur.  Cerita ini sering diceritakan tanpa sebuah kesimpulan yang jelas, seolah penutur cerita ingin membiarkan kita yang mendengarkan cerita untuk mencari sendiri makna dari isi cerita itu sendiri. Mengapa demikian? Jadi apa makna dari cerita ini? Di sinilah kita dapat menelurusi salah satu garis besar tentang pemikiran urang Sunda, berikut kekhasan dan keunikannya secara umum.

Sunda si Pencerita
Seperti halnya dengan pemikiran Timur lainnya, pemikiran Sunda pun banyak dituangkan melalui cerita. Karena sifatnya yang tidak ingin nampak, maka banyak sekali dari cerita Sunda yang tidak jelas asal-usulnya atau tidak disebut penulis/pengarangnya. Cerita itu hanya diturunkan dari generasi ke generasi secara turun-temurun. Namun apa yang menjadi kekhasan dari sempalan cerita si Kabayan ini? seperti yang saya jelaskan diartikel saya sebelumnya, untuk dapat melihat pemikiran urang Sunda, kita tidak boleh melepaskan pandangan kita dari dimensi-dimensi subjek yang melekat padanya (abdi, urang, aing, kaula, kuring, dst). Di sini kita dapat melihat bagaimana orang watak orang Sunda itu. Sekalipun sebenarnya orang Sunda memiliki penghayatan yang sangat dalam tentang hidup yakni sampai ke tahap penemuan jati diri yaitu melalui terlepasnya kuring  (saya) dari kurung (batasan indrawi), namun dalam penuturan dan penyampaian pikiran (dalam masyarakat umum) selalu mengalami banyak “penyederhanaan”, disinilah si kuring, meredam sedemikian rupa dirinya menjadi abdi bagi masyarakat. Maka, pikiran (ide/gagasan) itu tidaklah menjadi kebenaran mutlak yang kaku, tapi menjadi suatu penerangan yang diusahakan dapat mencerahkan pemikiran dimana ia berada. Pikiran itu dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah cerita segar yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum sebagai sebuah “sharing” atas kehidupan. Di sini setiap individu saling berbagi tentang pandangan-pandangannya. Bagaimana penuturan cerita itu sehingga dapat dikatakan berbagi ide?

Penuturan cerita Sunda seringkali dibalut dengan nuansa “bodor” (lucu), termasuk dalam cerita si Kabayan yang sekarang sedang kita bahas ini. Mengapa “bodor”? inilah ciri khas budaya Sunda yang tidak suka menggurui, sekalipun bisa atau mampu, tidak seharusnya pengetahuan atau ide itu bersifat memaksa dan mendikte. Alangkah lebih baik jika pikiran itu dapat “menghibur”, membuka pikiran dan mengajak khalayak umum untuk memikirkan dan merenungi pikiran itu bersama-sama. Dengan kata lain, alangkah lebih baik jika pikiran itu dinikmati bersama-sama dalam kesejajaran, kesetaraan, dan kesederhaan. “Menghibur” di sini berarti memberikan kesegaran, kekuatan, dan kelegaan bukan sekadar membuat orang tertawa terbahak-bahak. Menghibur di sini berarti memberikan pandangan baru yang tidak memaksa dan barangkali dapat dijadikan alternatif dalam melihat hidup.

Bagi orang Sunda, hidup memang sangatlah rumit untuk dipelajari, tentu mempelajari hidup bukanlah suatu usaha yang mudah, ada banyak hal yang tidak kita ketahui, tapi bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan, kegelihan dan ketegangan. Justru adanya hidup itu sendiri adalah sesuatu yang dalam dan luas, yang seringkali kita sebagai manusia keliru untuk melihatnya. Dalam keadaan ini ada baiknya sesekali kita mentertawakan diri kita. Mengapa demikian? Dalam pemikiran Sunda, kita patut menyadari bahwa manusia di dalam pemahaman dan pandangan hidupnya sangatlah terbatas namun seringkali merasa merasa tahu, dan setelah ia mendalaminya sering juga ia keliru. Dan dengan segera kita menyadari, “Oh masih jauh rupanya yang saya pahami ini, masih banyak yang saya belum tahu.” Ini dipandang bukan sebagai sebuah kekecewaan dimana ia berputus asa, tapi sebagai penghiburan yang membawa pada kesadaran hidup yang jauh lebih jelas. “Oh iya.” “Ya Saya masih harus banyak belajar.” “Hehe, ternyata Cuma segitu tuh pikiran saya.” Itulah barangkali kata-kata yang terlintas. Maka dalam penyampaian pikiran, orang Sunda sangat berhati dan menjaga dirinya dari kekecewaan. Suatu kesadaran bahwa suatu pengetahuan selalu dapat dikoreksi, karenya kita tidak dapat mengakui diri sebagai sudah bisa. Menghindari diri dari kekecewaan atas keterbatasan pengetahuan yang kini belum ia ketahui. Menghindari diri dari celaan atas kekeliruan pemikiran yang mungkin terjadi. Karenanya sebelum celaan yang rill itu terjadi, alangkah lebih bijak jika kita sekarang ini mulai menyadarinya. Alangkah lebih baik jika kita tertawa bersama. Mentertawakan diri tidaklah sama dengan mencela diri. Mentertawakan diri di sini berarti sebuah kesadaran pada keterbatasan kita dalam memahami realitas hidup. bahwa hidup memang perlu dipelajari, tapi juga hidup itu harus disyukuri. Dengan demikian kita menjadi manusia yang mawas diri dan seimbang.
Suatu pikiran yang dituangkan dalam sebuah cerita dapatlah menjadi pikiran yang mendukung pikiran sebelumnya, meruntuhkan pemikiran sebelumnya, atau pun menyindir. Ada pun semua penyampaian itu disajikan secara segar melalui cerita boboran tersebut. Karenanya pemikiran Sunda dapat dikatakan sebagai pemikiran yang nyeleneh dan korektif. Bagaimana sebuah cerita dapat dikatakan sebagai sebuah penegasan, penolakan, dan sindiran bahkan dikatakan sebagai sebuah pemikiran yang korektif?
Kita dapat melihat latar belakang penuturan cerita boboran itu melalui pandangan hidup orang Sunda berikut ini,

Tata, Titi, Surti, Ati-ati
Orang Sunda seperti yang sudah saya sejelaskan sebelumnya adalah orang yang gemar “ngulik hirup”, pengulikan itu terjadi sepanjang proses kehidupan. Ngulik dapat dimana saja, dan ari apa saja yang ada di alam ini. berikut ini salah satunya,

Kata tata = dapat diartikan sebagai sebuah aturan kesopanan, kata ini berasal dari kata semut dalam bahasa Sunda tataman yang berati semut hitam. Ada apa dengan semut hitam? Semut merupakan serangga yang sangat rajin, tapi bukan hanya itu, ia juga adalah serangga yang sangat teratur, setiap ekor semut mengerti secara spesifik tugas dan pekerjaannya dan ia tidak pernah menyimpang pada tugas dan pekerjaan lain, selain itu semut pun memiliki kerja sama atau ikatan kekerabatan yang sangat baik. Semut saling memberi sinyal (seperti bersalaman) bukan hanya sebagai basa basi, tapi sebagai penghubung dan sarana komunikasi yang membantunya menjalankan segala proses kehidupannya. Bagi orang Sunda, sifat seperti ini harus dicontoh oleh manusia. Kemanapun dan bagaimana pun manusia itu dalam tugas dan pekerjaannya, haruslah tetap menjaga tata. Artinya tidak boleh lupa dengan sesama. Sesibuk apapun ketika bertemu dengan sesama haruslah saling memberi hormat dan salam satu dengan yang lain. Maka jelas disini, dalam penuangan pikiran itu sendiri, hendaknya tidak keluar dari tata. Sekalipun pikiran,ide atau gagasan itu dianggap benar dan baik, tidaklah harus mengabaikan rasa hormat. Tidaklah harus mengabaikan diri dari masyarakat karena merasa benar. Tapi sebaliknya hendaknya saling memberikan sinyal satu dengan yang lain, supaya yang nyasar kembali ke jalan yang benar sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Karenanya penyampaian pikiran melalui cerita bodor, dianggap sebagai cara yang baik untuk berbagi ide dan pandangan hidup.

Titi = berarti tertur dan tidak bertabrakan, berasal dari kata “titingi” dalam bahasa indonesia disebut serangga kaki seribu. Ada apa dengan serangga ini? yang paling mencolok dari serangga ini adalah kakinya yang sangat banyak, tapi jika diperhatikan kaki sedemikian banyak kok jalannya lambat? Tapi kalau diperhatikan, pernahkah kita melihat kaki seribu keleseleo, terkilir, atau saling menambrak antara kakinya itu? nah disinilah uniknya, hidup itu harus punya banyak langkah, banyak saudara, banyak teman, banyak kemampuan, tapi semua itu harus teratur. Setiap hal selalu berhubungan, dan hubungan itu haruslah dijaga dan dipelihara dengan baik. Adapun hidup itu harus dihayati dan dinikmati perlahan-lahan, dalam menjalani hidup kita hendaknya tidak boleh terburu-buru, sebaliknya hidup itu adalah sesuatu yang harus dihayati secara luas dan dalam. Sekalipun kecil dan lambat langkah kita tapi dengan keteratun dan keuletan lama-lama sampai juga pada tujuan. Karenanya penyampaian pikiran melalui bodor dapat menjadi cara penuturan yang dianggap halus, luwes, dalam penyampaian ide dan pandangan hidup.

Surti = berarti hayati (batiniah), adapun hidup ini kita diperhadapkan dengan keadaan dan kebutuhan materi, namun hidup tidak hanya berarti pencapaian harta saja. Manusia harus benar-benar mengerti dirinya. Nilai yang melekat padanya bukan pada harta yang ia miliki. Manusia perlu belajar, manusia perlu mengisi dirinya dengan pengehuan dan tidak hanya berfokus pada kepuasaan badani. Manusia harus mampu memberikan nilai positif pada apa yang ada di sekelilinya di mana ia dilahirkan dan hidup. Manusia hendaknya mau berbagi di dalam hubungannya dengan sesama dan alam. Karenanya pemikiran itu hendaknya tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga patut diceritakan, melalui cerita bodor itulah manusia belajar untuk saling menghayati hidupnya satu dengan yang lain.

Ati-ati = berarti berhati-hati. Filosofi Bunglon dalam pandangan orang Sunda sering kali disalah artikan. Ini tidaklah berarti mencari keuntungan sendiri, atau pikiran dan hidup yang berubah-ubah hanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tapi bermakna lebih luas dari pada itu. ati-ati merujuk pada hewan Bunglon (dalam bahasa Sunda Londok). Jika dilihat dari cara hidup Bunglon kita melihat adanya hidup yang yang sangat berhati, bahkan seperti tidak ingin terlihat, dan berusaha bersembunyi. Bukan hanya berhati-hati untuk dirinya, tapi juga hati-hati dengan alam sekelilingnya. Ia berjalan mengendap-ngendap, seolah takut jatuh, ditempat hitam ia mejadi hitam, ditempat hijau ia menjadi hijau. Ia pun tidak serakah, ia hanya makan seperlunya saja. Maka hidup itu harus menjadi hidup yang penuh dengan kehati-hatian, bukan hanya berfokus pada diri, tapi bagaimana kita berhati-hati di dalam menjaga tata, titi, surti yang ada. Sebelum jatuh alangkah lebih bijak kita berhati-hati terlebih dahulu. Ada baiknya kita memberikan ruang untuk keraguan agar kita selalu waspada dan selalu belajar, ada baiknya memiliki ketidakmampuan agar kita selalu rendah hati. Jadi segala yang dianggap kurang atau tidak baik tidaklah selalu bermakna tidak baik atau tidak perlu. Semua dapat menjadi baik jika kita mampu mengolahnya dengan baik. Demikian juga sebaliknya sesuatu yang baik dapat menjadi tidak baik jika kita tidak bisa mengolahnya. Maka dalam penyampainan pikiran pun kita perlu mengolahnya dengan baik agar itu dapat diterima dan bermanfaat. Maka olahan pikiran dalam bentuk cerita bodor dapat menjadi alternatif yang baik untuk memberikan kesegaran dan “penghiburan”, tapi juga tetap dapat memberikan koreksi dan kritik atas hidup.

Dengan demikian, pemahaman atas hidup bukan hanya pandangan saya dan milik saya. Melainkan menjadi pandangan bersama dan milik bersama. Ini bukan oleh saya, juga bukan untuk saya, ia berusaha bersembunyi seperti Bunglon, hendak berhati-hati, mari kita pikirkan dan nikmati bersama begitulah kata orang Sunda. Ya, begitulah ceritanya, menurut yang saya pahami, ia hendak berkomunikasi memberikan sinyal seperti seekor tataman. Mari kita renungi dan kerjakan bersama,  ia mengajak berjalan seperti seekor titingi.  Itulah maksud dari si Sunda ngabodor, mengajak anda untuk bicara, mendengar, berbagi, dan setara. Tiada ada yang lebih hebat dari kita semua, saya dan anda adalah orang yang sama. Sama-sama belajar, jika ada yang keliru dan salah, ya marilah sejenak kita tertawa, marilah kita mentertawakan hidup kita yang “bodoh” ini. Dan marilah kita terus belajar untuk melihat hidup ini dengan cara yang lebih baik.

Ada apa dengan tawa si Kabayan?
Kali ini Si Kabayan mentertawakan kebodohannya, mungkinkah ia juga mentertawakan kita? Ya, barangkali begitu. Dia mengajak kita mentertawakan setiap pikiran manusiawi kita yang terbatas. Dia hendak menyindir kita dengan sikapnya. Saya sendiri tidak tahu apa dia betul-betul bodoh atau berpura-pura bodoh agar kita malu. Tapi, kasus nyempungnya Si Kabayan di sawah memang menjadi kasus yang cukup memalukan. Bagaimana mungkin seorang orang desa nyemplung di sawah karena takut melihat bayangan langit? Bukankah sudah tidak asing bagi orang desa untuk bersentuhan dengan sawah, kebun dan lingkungan sekitarnya? Mari kita renungankan sejenak! Saya rasa, jika kita cermat melihat ini tentulah ini menjadi hal yang tidak biasa,hal yang ganjil dan aneh.

Dengan sikap dan pemikirannya, si Kabayan seolah menentang dan menyindir pemikiran, tak jarang ia juga menjadi cerminan dari kebodohan kita. Kali ini apa yang dia mau? Apakah ini berupa sindiran? Atau cerminan? Entah apalah itu. Saya coba berdiskusi dengan beberapa kolot Sunda untuk mengerti hal ini. Entah itu sebagai sindiran atau cerminan.  Sikap Kabayan kali ini berisi sebuah pelajaran penting bagi kita bahwa kita sebagai individu di tengah-tengah masyarakat seringkali terkurung dengan pikiran kita sendiri. Kita tidak sungguh-sungguh sadar akan hidup ini. Barangkali pikiran kita terlalu melalangbuana kesana-kemari tapi sebenarnya kita tidak pergi kemana-mana. Ironis, di satu-sisi pikiran kita diisi dan dipenuhi oleh berbagai macam bayangan, tapi kita tidak sungguh-sungguh memijak kehidupan ini. seperti halnya si Kabayan yang melihat pantulan langit, dan ia merasa takut memijak sawah. Barangkali itulah kita ketika kita tidak sungguh-sungguh menghidupi hidup ini. masih mengantuk, masih sempoyongan, belum sepenuhnya bangun, sehingga segala tindakan menjadi tindakan kebodohan, solusi hidup seakan terlihat pintar tapi sia-sia. Apa gunanya mencari leugeut untuk menangkap tutup? Bukankah itu usaha sia-sia? Tidak lebih baik jika diambil dengan tangan saja? Itulah kita sebagai manusia. kita seringkali bersembunyi dari kenyataan hidup. Bersembunyi dengan alat (leugeut dan bambu), kita menyalahkan segala perangkat yang melekat pada diri kita, tanpa kita terjun langsung melihat dan menapaki hidup ini. Jika si Kabayan terkelabui oleh pandangannya yang masih mengantuk, barangkali kita hari ini juga demikian. Barangkali kita masih terjebak dengan kebiasaan-kebiasan indrawi kita, barangkali kita terjebak dalam kebiasaan pemikiran-pemikiran kita. jika si Kabayan menyalahkan leuget dan bambunya yang tidak berhasil mengambil tutut, mungkin kita juga demikian. Kita menyalahkan seseorang, sekelompok orang, institusi, sistem atau entah apalah itu, tanpa kita tidak pernah memijakan kaki kita pada realitas yang sebenarnya? Maka jelaslah tawa Si Kabayan kali ini, mengajak saya (barangkali kita) untuk melihat hidup ini dengan sesadar-sadar dan sepantas-pantasnya.

Hidup dimulai dengan melakukan sesuatu yang mungkin, dan bukan melakukan sesuatu yang tidak mungkin. Apa yang dilakukan si Kabayan adalah suatu usaha yang hampir-hampir mustahil. Padahal yang dilakukannya seharusnya adalah sesuatu yang sangat mudah karena itu sangatlah sederhana. Apa yang diambil juga bukanlah emas atau permata yang memang susah untuk ditemukan, tapi hanya “tutut” sawah, jenis keong yang berserakan di pesawahan. “Tutut” bisa jadi makanan bagi orang yang tidak memiliki “Balong” (kolam ikan), makanan bagi mereka yang tidak memiliki ikan untuk dipancing di kolam. Dengan kata lain, tutut itu berserakan untuk siapapun yang ingin mengambilnya, ia ada dari alam, dan tidak seorang pun menanamnya, di satu sisi ia hidup sebagai hama karena ia memakan padi, tapi di sisi lain ia juga dapat jadi makanan bagi mereka yang mampu mengolahnya.

Ketika sebuah pandangan pemikiran tidak sungguh-sungguh diterapkan/diuji ulang dalam praksis kehidupan itu adalah sesuatu yang tidak ada gunanya. Jika sebuah pemikiran hanya menjadi kebenaran sendiri, maka ia tidak ada paedahnya, hanya akan menjadi tertawaan publik saja. Jika sebuah pandangan kehidupan, etah apa itu, mungkin dapat dikatakan doktrin atau dogma yang hanya berkoar-koar dikubunya saja bahkan ia sendiri tidak akan kenyang, ia sendiri tidak akan makan. Ia sendiri akan lapar, karena jelas tidak ada kerjanya. Jangankan makan ikan, makan tutut pun yang mudah sekali di dapat, lambang dari masyarakat biasa, tidak akan dapat. Tidaklah ini adalah suatu hidup yang bahaya? Tidaklah ini menjadi gaya hidup yang tidak sehat? Bahkan makan hama sawah pun tidak bisa? Inilah ironisnya manusia. karenanya pikiran itu haruslah dapat diuji dalam kehidupan secara nyata. Hidup itu bukan hanya bercerita yang jauh, tapi juga kini dan sekarang. kita memang ingin mengapai langit, tapi ingat kita sekarang menyentuh bumi. Hidup itu haruslah bersesuaian dengan alam dimana kita berada (gaya hidup Bunglon).


Hidup bukanlah masalah salah atau benar saja, tapi hidup terdiri dari komponen-komponen yang perlu untuk dihubungkan. Pandangan atas hidup haruslah dilihat kesatuan dan keutuhannya dalam realitas nyata melalui kontak langsung dengan alam. Sebuah pikiran dan pandangan saja tidak akan mengubah sebuah tatanan kehidupan. Maka setiap pikiran dan pandangan dunia haruslah sampai pada tindakan atau dalam bahasa Sunda disebut “lampah”. Melalui lampah inilah akhirnya pikiran atau gagasan itu diuji kelayakannya, apakah itu pantas untuk dihidupi atau tidak. Singkatnya pandangan atas hidup harus relevan! Barangkali ada kalanya kita seperti si Kabayan, terlalu jauh dengan pandangan sendiri tanpa melihat realitas nyata, akhirnya kita didorong hingga tercebur, dan akhirnya kita tahu. “ehh ternyata dangkal.” Sejenak kita mentertawakan diri kita karena rupaya setelah dicemplungkan dalam kenyataan semua tak seperti bayangan kita. Kiranya semua pengalaman itu tidak membuat diri kita berputus asa, tapi seyogyanya membuat kita semakin menyadari bahwa masih banyak hal yang tidak kita ketahui, masih banyak kekeliruan yang harus kita cermati dan kita belajar untuk mensyukuri serta menghayati hidup ini sebagai sebuah perjalanan dan perbelajaran dimana kita hidup dalam sebuah hubungan-hubungan penting yang patut dijaga dan dipelihara. Keutuhan hidup dimulai dari kesadaran mengenai berbagai macam keterbatasan, keterbatasan itu pun adalah sebuah realitas yang nyata. Karenanya kita selalu diingatkan pada kebodohan dan kekeliuan kita, bagaimana si Kabayan melihat ini? bukan sebagai sebuah kegagalan! Tapi dia hanya tertawa, bagaimana si Kabayan melihat kita hari ini? mungkin dia juga hanya tertawa. Dalam pandangan melihat hidup dia hanya ingin mengajak kita tertawa bersamanya. Marilah sejenak kita menertawakan hidup bersama si Kabayan! haha

Sabtu, 03 Mei 2014

Secuplik Tentang Pencapaian “Kaluginaan” dan Konsep Teologi dalam Perspektif Sunda

Tulisan ini hadir sebagai upaya penjernihan tulisan saya yang sebelumnya yang berjudul Menyelami istilah “Ngulik” dalam pemikiran “Urang Sunda”, yakni sebagai suatu respon atau tanggapan dari sahabat saya Rinto, untuk dapat melihat tanggapan bung Rinto dapat dilihat disini. Untuk melihat tulisan saya sebelumnya dapt dilihat disini. Sebelumnya tak luput saya menghaturkan banyak terimakasih atas apresiasi, dorongan, dan evaluasi yang telah diberikan. Tentu saja ini sangat membantu saya dalam upaya memahi sedalam-dalam dan sejelas-jelasnya bagaimana filsafat Sunda itu. Semoga semua upaya ini dapat memperkaya dan mengingatkan kita bertapa berharganya dan luasnya pemikiran filsafat Indonesia itu.
Saya sangat menyadari dalam upaya pemaparan filsafat Sunda ini masih banyak kekurangan. Terutama dalam penggunaan istilah dan pembahasaannya yang kurang ketat. Juga saya harus sangat berhati-hati pada pemikiran saya sendiri, oleh karena saya perlu menjaga ke-aslian dari filsafat Sunda itu sendiri agar tidak tercampur dengan filsafat lainnya yang pernah saya pelajari khususnya filsafat Barat. Oleh karena itu jika ada penggunaan kata yang “agak” kebarat-baratan itu tidaklah bermakna sama seperti dalam penggunaan filsafat Barat, tapi saya berusaha untuk mencari kata yang “agak” dekat atau mewakili gagasan yang coba saya kemukakan.
Seperti yang sempat saya uraikan dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa tulisan tersebut hanyalah sebuah cuplikan singkat atas salah-satu pemikiran Sunda. Karenanya tulisan ini hadir untuk memperlangkapi dan lebih menjernihkan tulisan tersebut. Semoga ini dapat lebih mencerahkan kita dalam memahami filsafat Sunda.
Sanggahan 1
Tidak jelas bagi saya apa yang dimaksud Eka sebagai sebuah usaha eksistensial, karena dia mencoba menyambungkannya dengan usaha ilmiah yang menyelami sampai kesudut epistemologis. Sepanjang hemat saya, eksistensialisme tidak terlalu memusingkan persoalan epistemik, eksistensialisme adalah sebuah gaya hidup bukan aliran filsafat. Cara berpikir seorang eksistensial adalah reflektif, tidak menuntut konsistensi ontologis. Eksistensialisme selalu berisi pertimbangan dalam kehidupan praktis dan nyata dalam kehidupan. Oleh karena itu, eksistensialisme banyak berputar diwilayah etis dan estetis. Tapi ketika Eka mencoba menyatukan keduanya, bagi saya itu menjadi sesuatu yang membingungkan.
Penggunaan istilah yang saya maksud di atas, tidaklah dapat disamakan seluruhnya dengan pandangan filsafat Barat, bukan juga mengarah pada aliran eksistensialisme seperti Soren Kierkegaard dan tokoh-tokoh eksistensialisme lainnya. Tapi dalam proses “ngulik” salah satu aspek pentingnya adalah “pengulikan” itu selalu bersifat personal dan tidak bisa ditransfer. Yang artinya perlu adanya “pengalaman” eksistensial, karena “pengulikan” itu pun selain dari sebuah kajian, ia juga bersifat sangat reflektif, karenanya ada sedikit kesamaan dengan eksistensialisme yang selau berisi pertimbangan dalam kehidupan praktis  dan nyata dalam kehidupan. Maka sampailah pada kebingungan bung Rinto, bagaimana sesuatu yang bersifat eksistensial dapat sekaligus bersifat epistemologis? Jawabannya sangatlah sederharna, untuk memahami hal ini kita perlu memahami cara orang Sunda berkomunikasi.
Dalam bahasa Sunda terdapat banyak sekali penggunaan bahasa yang serupa tapi tak sama. Bahkan mungkin bagi saya sendiri yang adalah orang yang lahir dan hidup dalam “kesundaan” masih sulit untuk dapat menerapkan bahasa secara tepat. dalam bahasa Sunda penggunaan kata saya terdiri dari beberapa kata, salah satunya : abdi, urang, aing, kuring, kaula (sering digunakan dalam pewayangan)
Abdi, sering digunakan dalam percakapan yang sopan baik diantara orang yang lebih tua, atau setara (seumur) diantara teman. Dapat diartikan sebagai “hamba”. Jadi ketika kata ini digunakan dapat diartikan “saya yang menghambakan diri.”
Urang, digunakan dalam percakapan yang “menengah”. Tidak dapat dikatakan sebagai kata yang kasar, atau pun kata yang halus/sopan. Urang juga dapat berarti jamak (dalam bahasa Indonesia :kita/kami). Ketika digunakan dalam percakapan dapat diartikan “saya yang menyetarakan diri dengan kawan/lawan bicara.”
 Aing, digunakan dalam percakapan yang “kasar”. Menunjuk pada ego dan hak milik. Sebagai contoh, “hirup aing, kumaha aing” (hidup saya, bagaimana saya saja) atau “Persib nu aing” (Persib milik saya). Menunjuk pada kuasa, kepemilikan ego terhadap segala sesuatu, aing menunjuk pada kesombongan bahwa sang ego berhak untuk melakukan apapun baik itu pada dirinya atau pun pada orang lain.
Kuring, menunjuk pada pribadi, sangat personal. Secara filosofis dalam filsafat Sunda kuring menunjuk pada pencapaian jati diri. Maka seperti sebelumnya, dalam pemaham Sunda, setiap manusia Sunda dalam “pengulikan”-nya haruslah sampai kepada “kuring”. Dimana kuring terlepas dari kurung, atau nafsu manusiawi yang bersifat menghacurkan.
Ketika seseorang menemukan “kuring”-nya maka sampailah ia pada “hirup anu lugina” (hidup yang bahagia-dalam tahap sementara). Karena kuring selalu bersifat personal maka dalam pengaliannya pastilah bersifat eksistensial, eksistensial dalam arti ini yaitu reflektif, dan mengarah pada pertimbangan kehidupan praktis. Tapi ingat, ketika seorang Sunda menemukan kuring-nya bukan berarti ia terpisah dari komunitas dimana ia hidup! Ia tetap menjadi bagian yang terhubung satu dengan yang lainnya. Saat itulah saat dimana ia terjun ke dalam masyarakat sebagai “abdi” atau hamba bagi sesamanya. Sudah menjadi kepatutan bagi abdi, untuk mengamalkan pemahaman pada komunitas, maka kuring-nya dengan rendah hati harus mengabdikan diri pada masyarakat. upaya pengamalan ini yang saya maksud sebagai relung epistemologis! Mengapa dikatakan epistemologis? Upaya pengamalan pengetahuan itu haruslah dapat dijabarkan, dan dipertanggungjawabkan sumber dan cara (mungkin dapat dikatakan metode) dalam dialog diantara masyarakat. proses dialog inilah yang akhirnya menguji secara terus-menerus bagaimana suatu pengetahuan itu terbentuk atau dalam bahasa yang sering kita sebut “epistemologi”. Namun, epistemogi ini kembali saya tekankan tidaklah bermakna seperti filsafat Barat. Tapi hanya sampai pada batas pengujian cara sumber pengetahuan itu terbentuk/ada sejauh pemikiran Sunda itu tumbuh (“tumuwuh”) di tatar Pa-sunda-an. Jadi dalam hemat saya, ketika kita kita mencoba memahi filsafat atau sederhananya pikiran orang Sunda, kita perlu melihat orang Sunda dalam dimensi-dimensi personal yang melekat padanya. Dalam waktu dan tempat yang berbeda dia adalah abdi, urang, aing, kuring atau kaula.

Sanggahan 2
Pemaknaan personal yang diajukan Eka pun tampaknya tidak begitu jelas. Dia mengatakan ada kegiatan mempelajari dan menalaah sebuah objek sampai mencapai kesatuan. Seolah Eka ingin mengatakan bahwa sebelumnya ada jarak antara subjek dan objek dalam usaha subjek memahami objek. Ini sepertinya khas cara berpikir barat yang diusung oleh Hegel dan Kant. Hegel dan Kant pertama sekali selalu mengambil jarak dengan sebuah objek dalam usaha memahaminya. Hasil akhirnya yang tinggal adalah sebuah pengertian (understand) tentang objek itu. Pertanyaannya, apakah betul cara berpikir Sunda yang timur itu seperti itu? Bukankah cara berpikir timur selalu jatuh dalam sebuah asumsi kesatuan yang mutlak dan otomatis kepada alam? Bukankah cara berpikir timur itu selalu menghindari cara berpikir dikotomis khas barat? Saya pikir, Eka perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Jika tidak, maka tampaknya Eka hanya jatuh pada pembahasaan filsafat barat dengan bahasa Sunda. Itu berakibat fatal pada identitas dari filsafat Sunda itu sendiri.

Pendalaman personal di dalam proses “pengulikan” disini yang saya maksudkan adalah adanya hubungan antara subjek dan objek yang melampaui kaidah-kaidah kebahasaan, dimana sebelumnya bahasa seolah menjadi pemisah antara subjek itu sendiri. Dalam hal ini, pikiran Sunda, menyadari bahwa bahasa dalam sisi tertentu sangat berperan dalam proses pertukan informasi, namun karena ini berhubungan dengan sesuatu yang melampaui informasi, yaitu proses penemuan “kuring” (jati anu ngajadi diri) maka bahasa dipandang sebagai sesuatu batas, bukan jarak seperti pemahaman dalam teori Helegianisme dan Kantianisme. Sehingga seperti yang sudah saya paparkan, orang Sunda menyakini bahwa dibalik ilmu atau suatu pengetahuan ada tersimpan sesuatu yang tidak bisa ditranfer begitu saja dari sang guru pada murid. Guru dipandang bukanlah sebagai bank ilmu, dan murid sebagai wadah. Tapi hubungan Guru lebih sebagai mediator dan pembimbing, sebagai orang yang jauh lebih dulu mengalami dan menelaah, sedangkan murid dipandang sebagai sebuah benih, yang perlu untuk dipelihara dan diarahkan hingga akhirnya menemukan dirinya, yang akhirnya juga dapat menjadi seorang “guru” untuk kembali dapat menjadi mediator atau pembimbing dalam suatu tatanan masyarakat. Kebersatuan dan keutuhan antara si “pengulik” dan apa yang “diulik” dianggap sebagai upaya yang harus digapai guna mencapai keutuhan diri. Dalam pemahaman ini, ada unsur mistis yang sangat kuat dalam orang Sunda dalam melihat kehidupan. Bagaimana keutuhan itu dapat digambarkan? Saya pun masih perlu banyak belajar untuk menjelaskan hal ini. Namun demikian, penjelasan saya ini kiranya dapat sedikit menjawab sanggahan dari bung Rinto mengenai jarak antara subjek-objek seperti yang disanggahkan di atas.

Sanggahan 3
"Hirup nu hirup" atau disebut hidup yang berkecukupan. Berkecukupan yang dimaksud Eka adalah sebuah sikap tunduk pada Yang Ilahi. Artinya disini "hirup nu hurip" itu harus selalu dipahami dalam arti teologis. Tapi sayang, Eka tidak memberi konsep tentang Yang Ilahi. Tuhan yang seperti apa yang harus dipahami untuk mencapai kecukupan? Tuhan yang ontologis khas teologi Amerika Utara dan Eropa? Atau Tuhan mitologis yang muncul dari pemahaman tentang alam khas berpikir timur? Sayang, Eka tidak mengatakan apapun untuk itu.
Secara jujur, saya tidak bisa atau lebih tepatnya tidak ingin mengkategorikan apakah Tuhan yang dimaksud disini sebagai Tuhan yang ontologis atau mitologis? Sejauh pengamatan saya yang sangat minim, memang dalam upaya memahami konsep ketuhanan dalam pikiran Sunda secara “original” menjadi sesuatu yang “agak” pelik. Mengapa demikian, orang sunda, memiliki ciri khas pemikiran yang mampu menyerap suatu pandangan, ilmu, gagasan, sebagai “milik”-nya, karena kata “sunda” itu sendiri dapat diartikan “ya” merujuk pada kata “pangersa” diartikan sebagai ijin atau kuasa, dalam beberapa dialek sunda, dikatakan juga “leres sun”, dalam bahasa modern dapat dikatakan “ya gan!” Hal ini membawa pikiran sunda sebagai sebuah pikiran yang terus menerus berubah sepanjang zaman, sesuai dengan konteks dimana ia berada. Adapun pandangan dan pikiran (termasuk agama) itu tidaklah menjadi darah dan daging, melainkan hanya sebagai baju dan wadah untuk  menjalankan pemikirannya. Salah satu contoh nyata dari hal ini dapat kita lihat cerita Kabayan (untuk selanjutnya akan saya coba untuk mencuplik salah satu cerita kabayan, guna memperjelas pemahaman kita untuk dapat mengerti pikiran sunda terhadap manusia). hal itu pun sangat mempengaruhi konsepnya tentang Tuhan.
Adapun demikian, saya menemukan unsur mistis yang sangat kental tentang ketuhanan dalam pikiran Sunda, sekalipun mungkin pemikiran ini sudah tercampur dengan paham hinduisme, namun kita masih dapat menemukan jejak-jejak pemikiran Sunda buhun/kuno. Dalam pemikiran Sunda Tuhan dipandang sebagai sumber kuasa, atau sering disebut sebagai Sang Hyang Widi, widi adalah kata agung yang mengantikan kata “pangersa” yang berarti ijin. Artinya segala sesuatu yang terjadi di alam ini ada dalam ijin Tuhan (Sang Hyang Widi). Tuhan sebagai sumber dari segala “pangersa” mengijinkan alam ini terbentuk, termasuk ekosistem di dalamnya. Pada akhirnya segala di dalam “pengersanya” mengarahkan seluruh ciptaannya termasuk manusia pada pengenalan pada Sang Hyang Widi tersebut. Karena Sang Hyang Widi telah mengijinkan alam ini terbentuk maka pancaran ilahinya atau pengersa itu sendiri itu pun tercurah pada ciptaannya. Oleh karena itu setiap ciptaannya memiliki “pangersa” (ijin) untuk hidup. Ijin itu melahirkan kehendak dan keinginan. Adapun demikian, bahwa ciptaannya tidaklah sempurna, dan Sang Hyang Widi adalah sempurna. Bahwa ciptaannya suatu saat akan mengalami kematian (sementara) sebagai suatu proses untuk kembali pada kehendak yang ilahi (Sang Hyang Widi) maka perlu bagi ciptaannya, dalam hal ini manusia, untuk betul-betul mengamati dan belajar tentang hidupnya. Dari mana ia sepatutnya belajar? Tentulah dari apa yang sudah dinampakan oleh Sang Hyang Widi, yaitu dari alam yang sudah ia ciptakan. Alam dipandang sebagai sumber kehidupan dan juga sumber ilmu. Karenanya kata “hubungan” menjadi kata kunci penting bagi orang Sunda dalam upaya memahami realitas. Hubungan itu berkaitan dengan hubungan antar manusia (yang dibagi dalam beberapa tingkatan seperti : orang tua – anak, pemimpin – rakyat, dst,), hubungan manusia dengan alam (termasuk juga dengan yang gaib), hubungan dengan Sang Hyang Widi yang dijembatani melalui penemuan “kuring” melalui pembelajaran dari alam.


Sanggahan 4
Dari paparan yang demikian, sehingga tak salah jika saya memberi judul tulisan ini adalah "Kebahagiaan tanpa Identitas". Tidak jelas Eka mau membawa kemana kaluginaan yang dia maksud. Baiklah saya berikan contoh. Eka bilang bahwa dalam filsafat Sunda, kebahagiaan didapat dari mempelajari kehidupan dan tunduk pada Yang Ilahi. Katakanlah Kang Aan mempelajari kehidupan bahwa membunuh itu benar dan itu perintah dari Yang Ilahi yang dipahaminya. Apakah Kang Aan termasuk orang yang berbahagia? Tentu ini akan menjadi tugas yang berat bagi Kang Aan dalam menjawab pertanyaan Jaksa Penuntun dihadapan Hakim.
Seperti yang saya jelaskan diatas, bahwa orang sunda dapat memainkan perannya dalam beberapa dimensi (abdi, urang, aing, kuring, kaula) dimana “hubungan” adalah kata kunci untuk memahami pikiran Sunda. Ketika seseorang menemukan “kuring”-nya. Tentulah ia tidak memandang dirinya sebagai seseorang yang sudah penuh dengan ilmu sehingga tidak membutuhkan orang lain, atau seorang yang cukup berpuas diri dan tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya ia hadir di tengah masyarakat, untuk merendahkan diri, dimana “kuring”-nya di-abdi-kan melalui pengalamalan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini terjadilah dialog yang dapat membawa setiap orang Sunda pada proses pengujian kebenaran. Disinilah “kuring” sang guru kembali diuji oleh “kuring” guru yang lainnya, atau mungkin dipertanyakan kembali oleh sang murid (karena guru bukanlah yang selalu benar). Pada proses dialog dimana “kuring” berdialog dengan “kuring” yang lainnya disitulah terjadi proses penyatuan dan penghayatan hidup dimana setiap orang dapat merasakan/berbagi kalugiaan. Sehingga kalugianaan itu bukan lagi kaluginaan personal, tetapi menjadi kaluginaan yang dipahami secara kolektif dalam suatu tatanan masyarakat. kalugianaan ini pun membawa setiap orang pada pehaman dan kesadaran atas hidup sebagai sesuatu yang harus terus dipelihara dengan tanggung jawab dan perlu untuk terus dikaji dan dipelajari bersama. Namun kembali saya tekankan, kalugianaan ini bukanlah “berpuas diri”, tapi sebuah rasa syukur, penerimaan diri dan pengendalian diri. Rasa syukur untuk sebuah kehidupan dan pengertian yang didapat hari ini, dan pengendalian diri untuk terus mau “ngulik” hirup dari rentetan-rentetan dan hiruk pikuk sejarah manusia yang terus bergulir. Sekembalinya jati diri pada yang ilahi, diharapkan, jati diri itu adalah dalam kondisi yang murni sesuai dengan “pangersa” sang kuasa. Dengan demikian sudah menjadi panggilan hidup bagi setiap manusia sunda untuk menyadari bahwa dirinya adalah seorang pembelajar, dimana pembelajaran dipelajari sedalam-dalamnya, terbuka, dan rela untuk kembali mengevaluasi pandangannya sebagai usaha pengalaman dan bakti terhadap masyarakat dimana ia hidup. Oleh karena itu identitas dari kalugianaan itu terbentuk dari hubungan-hubungan antara si pengulik dengan yang diulik, antara manusia dengan alam, antara manusia-dengan manusia, dan antara manusia dengan sang pencipta secara berkesinambungan.
Tentu saja masih banyak pikiran Sunda yang perlu saya jabarkan. Bahkan tulisan ini pun masih sangat terbuka untuk dikoreksi dan dikritisi kembali. Hal ini mendorong saya untuk terus mempelajari bagaimana filsafat Sunda itu, terutama mengenai konsep tentang teologi, antropologi orang Sunda yang belum tergambar secara utuh dalam tulisan ini? Menjadi hasrat saya untuk mendalami dan mencoba untuk mengamalkan “pikiran” Sunda di tengah pemikiran-pemikiran lain sebagai upaya untuk memberikan sumbangih atas keragaman pemikiran dan pergerakan filsafat di Indonesia.