Jumat, 02 Mei 2014

Menyelami istilah “Ngulik” dalam pemikiran “Urang Sunda”


Tulisan ini dimulai dengan sebuah perenungan saya terhadap berbagai macam pandangan dan pemikiran yang ada, khususnya ada di tatar “pasundan” (pa, an= pertempatan, sunda = orang sunda, jadi artinya pertempatan orang sunda) dimana ragam pemikiran dan pandangan itu menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji, sekaligus menjadi suatu keprihatinan dimana hal tersebut sudah hampir hilang dan dilupakan. Memang sudah tidak asing bagi saya, bahwa jarang sekali ada pemikiran, atau keilmuan, apalagi dikatakan filasafat “sunda” yang diajarkan secara terbuka. Hal itu memang diantara masyarakat sunda sendiri, seakan menjadi sesuatu yang tidak patut digembar-gemborkan, mengingat salah satu ciri khas orang sunda yang tidak suka bersaing, tidak suka terlihat, orang sunda lebih suka menyembunyikan kemampuan dan keahliannya, orang sunda lebih suka terlihat “bodoh” dan sederhana.
Istilah “Ngulik” adalah istilah dalam bahasa sunda yang sulit sekali ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Namun secara sederhana, dapat diartikan mempelajari secara mendalam sendiri (Kamus Sunda-Indonesia). Namun sebenarnya di dalam kata ini terkandung salah satu inti dari pandangan dan pemikiran orang sunda boleh juga dikatakan sebagai filsafat sunda. Di dalamnya terkadung makna yang disembunyikan secara sengaja. Apa dan bagaimana itu? Mari kita simak.

Peribahasa :
“Lamun hirup kudu Ngulik, lamun Ngulik kudu hirup!”
Inilah perkataan yang seringkali diucapkan orang tua sunda pada anak-anaknya untuk dapat menjalani hidup dengan lugina (bahagia). Secara sederhana peribahasa di atas dapat diartikan demikian :
“hidup itu harus dipelajari/dihayati, dan kalau mempelajari/menghayati itu harus dihidupi!”
Kenapa hidup adalah sesuatu yang harus dipelajari? Dan kenapa sesuatu yang dipelajari harus dihidupi? Jawabannya sederhana, adalah untuk mendapatkan kaluginaan (kebahagiaan). Jadi nampaklah jelas di sini, menurut padangan orang sunda kebahagiaan itu didapat ketika mereka mampu mempelajari kehidupan, dan sekaligus ketika mereka menghidupi apa yang mereka pelajari. Namun hal ini memunculkan pertanyaan, apa yang dimaksud belajar dan hidup itu sendiri?

Ngulik
Ngulik” dalam pengamatan saya melalui studi pustaka yang minim (mengingat jarang sekali ada karya ilmiah yang khusus mengenai filsafat sunda) dan wawancara dengan tokoh dan pemikir sunda, dapat diartikan sebagai suatu kegiatan eksistensial yang bersifat personal untuk mempelajari, mendalami, menelaah, suatu objek tertentu hingga ada hubungan khusus (kedekatan alamiah) antara objek dan subjek peneliti sampai memunculkan suatu hasil pendalaman yang dapat diterapkan dan diresapkan dalam hidup si pembelajar (si peng-“Ngulik”) baik itu sebagai sebuah penghayatan atau penerapan secara praktis. oleh karena itu “Ngulik” selalu merupakan kata kerja yang diterapkan pada satu pribadi, dan selalu bersifat personal. Tetapi selain personal, dia juga bersifat ilmiah, karena haruslah sesuatu yang diulik itu bisa dianalisa, bisa dijabarkan. Karena ia pun sesuatu yang bersifat eksistensial, maka tidak semua hasil dari “ulikan” tersebut sesuatu yang bisa dijabarkan, atau ditransfer ke pada orang lain. Mengapa ada kata “Ngulik”, apakah apakah tidak cukup dengan istilah “diajar” (belajar). “Diajar” dalam bahasa sunda dibatasi sebagai suatu yang hanya terbatas pada ilmu-ilmu atau hal-hal yang bisa ditransfer. Terbatas pada sesuatu yang bersifat “kebenaran objektif” tidak mencakup penghayatan dan pendalaman diri. Tapi melalui kata : “Ngulik” maka seseorang dituntut untuk melakukan upaya lebih. Yaitu upaya mengapai pengetahuan hingga kelerung terdalam pengetahuan itu sendiri, sampai ke sudut-sudut epistemologi terdalam hingga ditemukan akar dari pohon pengetahuan itu, untuk kemudian  dikoreksi dan direvisi dan kemudian diterapkan sesuai dengan pendalam si “peng-Ngulik”. Oleh karena itu, pendidikan dan ilmu menurut filsafat sunda bukan sesuatu yang dianggap sebagai sesuatu yang finish (sudah selesai). Juga bukan sebagai sesuatu yang objektif saja, melainkan juga subjektif. Ilmu atau pengetahuan bukan sesuatu yang bersifat total dapat diturunkan. Orang sunda baik dalam tataran para pemikir dan masyarakatnya adalah orang yang gemar dengan “kerahasiaan”. Orang sunda percaya bahwa ada sesuatu dari ilmu atau pengetahuan yang tidak bisa diterima begitu saja, oleh karena itu mereka cenderung berusaha untuk mendalami dan menghayati sesuatu sedalam-dalamnya. Itulah cara yang diajarkan untuk dapat menikmati hidup.

“Hirup”
“Hirup” dalam bahasa sunda sederhananya dapat diartikan hidup. Hidup ini dapat bermakna hidup secara biologi dan roh/jiwa. Perlu dipahami bahwa sebelum hindu dan Islam masuk ke tanah pasundan, orang sunda telah jauh lebih dahulu memiliki sistem kepercayaannya sendiri. Inilah yang sangat mempengaruhi pandangannya terhadap kehidupan. Bagi orang sunda “buhun” (sunda lama/kuno) alam ini terdiri dari makro-mikro, alam semesta dan manusia dipandang sebagai suatu kesatuan, dimana alam semesta termasuk di dalamnya Tuhan, adalah makro, dan manusia sebagai mikro. Tuhan telah menciptakan alam semesta, dan kuasa dan keilahian Tuhan telah “meresap” ke dalam ciptaannya. Termasuk pada alam semesta (baik itu gunung, tumbuhan, hewan, juga manusia, dll) oleh karena itu penting sekali bagi orang sunda untuk memelihara dan menjaga setiap tatanan kehidupan dengan benar. Namun apakah kebenaran hidup itu? Dalam bahasa sunda, kata “hirup” tidak berjalan sendiri, ia selalu di dadampingi dengan kata “hurip”. Ada istilah sunda yang mengatakan : “lamun hirup teh kudu nepi ka hurip.” Yang dimaksud “hurip” disini adalah hidup yang berkecukupan. Yang dimaksud hidup berkecukupan disini bukanlah hidup berkecukupan secara materi, tapi hidup sesuai dengan kekuatan yang telah diberikan sang pencipta kepada ciptaannya. Yaitu menyatunya seluruh kehidupan manusia (baik tubuh dan jiwa/roh) dengan kehendak sang pencipta. Dengan kata lain “hurip” berarti diterimanya secara utuh pancaran ilahi sang kuasa. Dalam pandangan ini, digambarkan ada dualisme antara Tuhan yang sempurna, dan keadaan dunia yang tidak sempurna. Oleh karena itu manusia yang terbatas pada tataran daging (memiliki hawa nafsu dan kemampuan untuk merusak tatanan) haruslah mampu memiliki pengendalian diri yang baik guna untuk menemukan dirinya dan menyerahkan dirinya dalam kehendak Tuhan. Karenanya sekalipun dibeberapa aliran pemikiran sunda, ada yang memahami adanya kekuatan gaib seperti adanya raja, “dewa” , itu dipahami sebagai raja atau dewa yang tidak bisa semena-mena, karena kekuasaannya pun dibatasi pada peran dan tugas sesuai dengan kuasa yang diberikan Tuhan guna menjaga tatanan yang ada. Apa kaitannya dengan kata “hurip”? “hurip” dipandang sebagai tujuan hidup manusia sebagai sebuah pencapaian akhir dari proses pembelajarannya terhadap kehidupan. Dengan demikian orang sunda selalu diingatkan, bahwa hidup bukan untuk dihabiskan secara percuma, melainkan hidup adalah sebuah penghayatan untuk menemukan jati diri dan kebenaran yang hakiki, karenanya hidup itu haruslah di-“ulik”. Dengan demikian hidup dapat mencapai suatu kebahagiaan (kaluginaan).

Masyarakat sederhana yang hidup dari alam
Jika kita melihat sekilas kehidupan orang sunda khususnya yang ada di pelosok perkampungan, maka kita melihat adanya kehidupan yang dapat dikatakan kehidupan yang tidak mau “repot”, kehidupan yang tidak mau “pusing”. Kehidupan tanpa sebuah persaingan, atau keinginan yang berlebihan. Seolah kita melihat kehidupan yang acuh dan masa bodoh dengan kemajuan yang ada. Mereka meyakini di dalam alam terkandung berbagai banyak hal untuk dipelajari, dan pelajaran itu tidak harus selalu bersifat formal, otoriter, atau hanya melulu didiktekan oleh sang guru, tapi “peNgulikan” muncul dari sebuah kesadaran hidup. Bahwa hidup adalah sebuah "hubungan". Hidup terbentuk dari hubungan-hubungan yang harus dijaga. Hidup dimulai dengan kesadaran bahwa yang terbatas akan kembali pada yang tak terbatas. Dengan kata lain semua yang terbatas, termasuk manusia akan mencapai akhir, atau akan mati. Tapi matinya pun manusia itu akan membawa manusia pada pengalaman yang lain, yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata “sekarang”. Adapun “peNgulikan” itu bermakna “sekarang” dan “kini”. Artinya hidup itu harus segera dipahami (sebelum mati). Karena itu hidup harus selalu dipelajari dan didalami yakni sebagai wujud atau bentuk untuk memperoleh kebahagiaan. Dengan demikian, menjaga alam termasuk di dalamnya hidup dari alam, seperti misalnya menanam, memelihara tanaman, ternak, dst, menjadi salah satu cara untuk memahi hidup. Dalam bertani atau berternak orang sunda tidak memiliki metode, atau teknik-teknik khusus untuk diturunkan atau diajarkan pada anak-anaknya, semua ini lahir dari sebuah kebiasaan. kebiasaan-kebiasaan inilah yang berkembang menjadi pola dalam kebermasyarakatan. Bekerja di ladang, bagi orang sunda bukanlah alat untuk memenuhi kehidupan semata, melainkan sebagai proses untuk menghayati hidup. Bekerja di ladang dipandang sebagai sebuah “kebiasaan” untuk menemukan hidup. Dari alam kita belajar, dari alam kita hidup dan kepada alam kita akan sirna.

Pandangan terhadap dunia yang belum selesai
Bagi orang sunda, tidaklah patut mengangap diri sudah “bisa” atau sudah “mengerti” hal ini terlihat jelas dalam beberapa cerita sunda, seperti cerita "Kabayan", seorang tokoh sunda yang selalu memperlihatkan dirinya sebagai seorang yang tidak tahu apa-apa dan bahkan terkesan bodoh dan dungu, namun sebenarnya sangat cerdik dan pandai dalam memainkan perannya baik dalam dialog atau dalam pengambilan keputusan. Saya sendiri pun oleh orang tua saya selalu diajari, untuk selalu merasa “tidak bisa”. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa hidup bukan sebuah pencapaian, hasil, atau sebagai sesuatu yang sudah selesai, melainkan sebagai sesuatu yang harus ditelaah dan dipelajari secara mendalam secara terus-menerus (dalam bahasa sunda dikatakan “Ngulik cing leukeun.”) namun dengan kita “Ngulik hirup” seyogyanya membawa orang sunda pada kesadaran untuk selalu mengingat bahwa manusia bukanlah segala-galanya, dan segala-galanya bukanlah untuk manusia. tapi manusia dan alam adalah sebuah hubungan yang harus dijaga, hidup adalah sebuah pembelajaran, dan pembelajaran itu mengarahkan atau membawa setiap pribadi pada kebahagiaan yang diartikan sebagai sebuah rasa syukur, penerimaan dan pengendalian diri (kaluginaan hirup). kecukupan yang mengajarkan kita untuk mengunakan segala sesuatu sewajar-wajarnya, sepantas-pantasnya, dan berusaha meraih pemahaman hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya, belajar sebaik-baiknya, untuk menemukan "kuring" (jati diri) melepaskan kuring (saya yang sebenarnya) dari "kurung" (keterbatasan manusiawi) di dalam kesadaran dan kesederhanaan hidup.

Bagi saya yang baru mempelajari filsafat sunda, tentu saja hal ini masih menyisakan banyak pertanyaan, dan tulisan ini pun hanyalah sebuah refleksi singkat dari secuplik pemahaman yang coba saya kumpulkan. Pertanyaan saya, Apakah pandangan ini akan bertahan dalam menghadapi tantangan dari zaman ke zaman? Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, apakah pemahaman orang sunda adalah pemahaman yang sulit untuk dimasuki/dirasuki oleh pemahaman lain, mengingat kebiasaan bersembunyi dan mencoba "mengulik" segala sesuatu menjadi miliknya? bagaimana sebuah “peNgulikan” akhirnya dapat mencapai sebuah “kaluginaan”? bukankah sebuah “peNgulikan” selalu membawa “keresahan”? Bagaimana dan dari mana sumber dasar yang otentik yang mampu menjabarkan inti dari filasaf sunda itu sendiri? Tentu saja hal ini menjadi hasrat dasar untuk kembali melanjutkan proses “peNgulikan” ini.

5 komentar:

  1. Wah, asik juga nih tulisan coy. Jadi agak tertantang awak ngerespon nih. Tunggu ya coy respon awak.

    BalasHapus
  2. baik bro. awak tunggu responnya. Nuhun cuy.

    BalasHapus
  3. Ngulik diri,ngulik rasa ,tur ngulik alam pasti pinanggih dirina

    BalasHapus
  4. Tks infonya menarik.
    Jadi orang yg senang ngulik disebut ya atau julukan ya apa ya

    BalasHapus