Tulisan ini dimulai dengan sebuah
perenungan saya terhadap berbagai macam pandangan dan pemikiran yang ada,
khususnya ada di tatar “pasundan” (pa, an= pertempatan, sunda = orang sunda,
jadi artinya pertempatan orang sunda) dimana ragam pemikiran dan pandangan itu
menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji, sekaligus menjadi suatu
keprihatinan dimana hal tersebut sudah hampir hilang dan dilupakan. Memang sudah
tidak asing bagi saya, bahwa jarang sekali ada pemikiran, atau keilmuan,
apalagi dikatakan filasafat “sunda” yang diajarkan secara terbuka. Hal itu
memang diantara masyarakat sunda sendiri, seakan menjadi sesuatu yang tidak
patut digembar-gemborkan, mengingat salah satu ciri khas orang sunda yang tidak
suka bersaing, tidak suka terlihat, orang sunda lebih suka menyembunyikan
kemampuan dan keahliannya, orang sunda lebih suka terlihat “bodoh” dan
sederhana.
Istilah “Ngulik” adalah istilah dalam bahasa sunda yang sulit sekali
ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Namun secara sederhana, dapat
diartikan mempelajari secara mendalam
sendiri (Kamus Sunda-Indonesia). Namun sebenarnya di dalam kata ini
terkandung salah satu inti dari pandangan dan pemikiran orang sunda boleh juga
dikatakan sebagai filsafat sunda. Di dalamnya terkadung makna yang
disembunyikan secara sengaja. Apa dan bagaimana itu? Mari kita simak.
Peribahasa :
“Lamun hirup kudu Ngulik, lamun Ngulik kudu hirup!”
Inilah perkataan yang seringkali
diucapkan orang tua sunda pada anak-anaknya untuk dapat menjalani hidup dengan lugina (bahagia). Secara sederhana
peribahasa di atas dapat diartikan demikian :
“hidup itu harus dipelajari/dihayati,
dan kalau mempelajari/menghayati itu harus dihidupi!”
Kenapa hidup adalah sesuatu yang
harus dipelajari? Dan kenapa sesuatu yang dipelajari harus dihidupi? Jawabannya
sederhana, adalah untuk mendapatkan kaluginaan
(kebahagiaan). Jadi nampaklah jelas di sini, menurut padangan orang sunda
kebahagiaan itu didapat ketika mereka mampu mempelajari kehidupan, dan
sekaligus ketika mereka menghidupi apa yang mereka pelajari. Namun hal ini
memunculkan pertanyaan, apa yang dimaksud belajar dan hidup itu sendiri?
“Ngulik”
“Ngulik” dalam pengamatan saya melalui studi pustaka yang minim (mengingat
jarang sekali ada karya ilmiah yang khusus mengenai filsafat sunda) dan
wawancara dengan tokoh dan pemikir sunda, dapat diartikan sebagai suatu
kegiatan eksistensial yang bersifat personal untuk mempelajari, mendalami,
menelaah, suatu objek tertentu hingga ada hubungan khusus (kedekatan alamiah)
antara objek dan subjek peneliti sampai memunculkan suatu hasil pendalaman yang
dapat diterapkan dan diresapkan dalam hidup si pembelajar (si peng-“Ngulik”) baik itu sebagai sebuah
penghayatan atau penerapan secara praktis. oleh karena itu “Ngulik” selalu merupakan kata kerja yang
diterapkan pada satu pribadi, dan selalu bersifat personal. Tetapi selain
personal, dia juga bersifat ilmiah, karena haruslah sesuatu yang diulik itu
bisa dianalisa, bisa dijabarkan. Karena ia pun sesuatu yang bersifat
eksistensial, maka tidak semua hasil dari “ulikan” tersebut sesuatu yang bisa
dijabarkan, atau ditransfer ke pada orang lain. Mengapa ada kata “Ngulik”, apakah apakah tidak cukup
dengan istilah “diajar” (belajar). “Diajar” dalam bahasa sunda dibatasi sebagai
suatu yang hanya terbatas pada ilmu-ilmu atau hal-hal yang bisa ditransfer. Terbatas
pada sesuatu yang bersifat “kebenaran objektif” tidak mencakup penghayatan dan
pendalaman diri. Tapi melalui kata : “Ngulik”
maka seseorang dituntut untuk melakukan upaya lebih. Yaitu upaya mengapai
pengetahuan hingga kelerung terdalam pengetahuan itu sendiri, sampai ke
sudut-sudut epistemologi terdalam hingga ditemukan akar dari pohon pengetahuan
itu, untuk kemudian dikoreksi dan
direvisi dan kemudian diterapkan sesuai dengan pendalam si “peng-Ngulik”. Oleh karena itu, pendidikan dan
ilmu menurut filsafat sunda bukan sesuatu yang dianggap sebagai sesuatu yang finish (sudah selesai). Juga bukan
sebagai sesuatu yang objektif saja, melainkan juga subjektif. Ilmu atau
pengetahuan bukan sesuatu yang bersifat total dapat diturunkan. Orang sunda
baik dalam tataran para pemikir dan masyarakatnya adalah orang yang gemar
dengan “kerahasiaan”. Orang sunda percaya bahwa ada sesuatu dari ilmu atau
pengetahuan yang tidak bisa diterima begitu saja, oleh karena itu mereka
cenderung berusaha untuk mendalami dan menghayati sesuatu sedalam-dalamnya. Itulah
cara yang diajarkan untuk dapat menikmati hidup.
“Hirup”
“Hirup” dalam bahasa sunda
sederhananya dapat diartikan hidup. Hidup ini dapat bermakna hidup secara
biologi dan roh/jiwa. Perlu dipahami bahwa sebelum hindu dan Islam masuk ke
tanah pasundan, orang sunda telah jauh lebih dahulu memiliki sistem
kepercayaannya sendiri. Inilah yang sangat mempengaruhi pandangannya terhadap
kehidupan. Bagi orang sunda “buhun” (sunda lama/kuno) alam ini terdiri dari
makro-mikro, alam semesta dan manusia dipandang sebagai suatu kesatuan, dimana
alam semesta termasuk di dalamnya Tuhan, adalah makro, dan manusia sebagai
mikro. Tuhan telah menciptakan alam semesta, dan kuasa dan keilahian Tuhan
telah “meresap” ke dalam ciptaannya. Termasuk pada alam semesta (baik itu
gunung, tumbuhan, hewan, juga manusia, dll) oleh karena itu penting sekali bagi
orang sunda untuk memelihara dan menjaga setiap tatanan kehidupan dengan benar.
Namun apakah kebenaran hidup itu? Dalam bahasa sunda, kata “hirup” tidak
berjalan sendiri, ia selalu di dadampingi dengan kata “hurip”. Ada istilah sunda
yang mengatakan : “lamun hirup teh kudu nepi ka hurip.” Yang dimaksud “hurip”
disini adalah hidup yang berkecukupan.
Yang dimaksud hidup berkecukupan disini bukanlah hidup berkecukupan secara
materi, tapi hidup sesuai dengan kekuatan yang telah diberikan sang pencipta
kepada ciptaannya. Yaitu menyatunya seluruh kehidupan manusia (baik tubuh dan
jiwa/roh) dengan kehendak sang pencipta. Dengan kata lain “hurip” berarti
diterimanya secara utuh pancaran ilahi sang kuasa. Dalam pandangan ini,
digambarkan ada dualisme antara Tuhan yang sempurna, dan keadaan dunia yang
tidak sempurna. Oleh karena itu manusia yang terbatas pada tataran daging
(memiliki hawa nafsu dan kemampuan untuk merusak tatanan) haruslah mampu
memiliki pengendalian diri yang baik guna untuk menemukan dirinya dan
menyerahkan dirinya dalam kehendak Tuhan. Karenanya sekalipun dibeberapa aliran
pemikiran sunda, ada yang memahami adanya kekuatan gaib seperti adanya raja, “dewa”
, itu dipahami sebagai raja atau dewa yang tidak bisa semena-mena, karena
kekuasaannya pun dibatasi pada peran dan tugas sesuai dengan kuasa yang
diberikan Tuhan guna menjaga tatanan yang ada. Apa kaitannya dengan kata “hurip”?
“hurip” dipandang sebagai tujuan hidup manusia sebagai sebuah pencapaian akhir
dari proses pembelajarannya terhadap kehidupan. Dengan demikian orang sunda
selalu diingatkan, bahwa hidup bukan untuk dihabiskan secara percuma, melainkan
hidup adalah sebuah penghayatan untuk menemukan jati diri dan kebenaran yang
hakiki, karenanya hidup itu haruslah di-“ulik”. Dengan demikian hidup dapat
mencapai suatu kebahagiaan (kaluginaan).
Masyarakat sederhana yang hidup dari alam
Jika kita melihat sekilas kehidupan
orang sunda khususnya yang ada di pelosok perkampungan, maka kita melihat
adanya kehidupan yang dapat dikatakan kehidupan yang tidak mau “repot”,
kehidupan yang tidak mau “pusing”. Kehidupan tanpa sebuah persaingan, atau
keinginan yang berlebihan. Seolah kita melihat kehidupan yang acuh dan masa bodoh dengan kemajuan yang ada. Mereka meyakini
di dalam alam terkandung berbagai banyak hal untuk dipelajari, dan pelajaran
itu tidak harus selalu bersifat formal, otoriter, atau hanya melulu didiktekan
oleh sang guru, tapi “peNgulikan”
muncul dari sebuah kesadaran hidup. Bahwa hidup adalah sebuah "hubungan". Hidup terbentuk
dari hubungan-hubungan yang harus dijaga. Hidup dimulai dengan kesadaran bahwa
yang terbatas akan kembali pada yang tak terbatas. Dengan kata lain semua yang
terbatas, termasuk manusia akan mencapai akhir, atau akan mati. Tapi matinya
pun manusia itu akan membawa manusia pada pengalaman yang lain, yang tidak bisa
digambarkan dengan kata-kata “sekarang”. Adapun “peNgulikan” itu bermakna “sekarang” dan “kini”. Artinya hidup itu
harus segera dipahami (sebelum mati). Karena itu hidup harus selalu dipelajari
dan didalami yakni sebagai wujud atau bentuk untuk memperoleh kebahagiaan. Dengan
demikian, menjaga alam termasuk di dalamnya hidup dari alam, seperti misalnya
menanam, memelihara tanaman, ternak, dst, menjadi salah satu cara untuk memahi
hidup. Dalam bertani atau berternak orang sunda tidak memiliki metode, atau
teknik-teknik khusus untuk diturunkan atau diajarkan pada anak-anaknya, semua ini lahir dari sebuah kebiasaan. kebiasaan-kebiasaan inilah yang berkembang menjadi pola dalam kebermasyarakatan. Bekerja
di ladang, bagi orang sunda bukanlah alat untuk memenuhi kehidupan semata,
melainkan sebagai proses untuk menghayati hidup. Bekerja di ladang dipandang
sebagai sebuah “kebiasaan” untuk menemukan hidup. Dari alam kita belajar, dari
alam kita hidup dan kepada alam kita akan sirna.
Pandangan terhadap dunia yang belum selesai
Bagi orang sunda, tidaklah patut
mengangap diri sudah “bisa” atau sudah “mengerti” hal ini terlihat jelas dalam beberapa cerita sunda, seperti cerita "Kabayan", seorang tokoh sunda yang selalu memperlihatkan dirinya sebagai seorang yang tidak tahu apa-apa dan bahkan terkesan bodoh dan dungu, namun sebenarnya sangat cerdik dan pandai dalam memainkan perannya baik dalam dialog atau dalam pengambilan keputusan. Saya sendiri pun oleh
orang tua saya selalu diajari, untuk selalu merasa “tidak bisa”. Hal ini didasarkan
pada pemahaman bahwa hidup bukan sebuah pencapaian, hasil, atau sebagai sesuatu
yang sudah selesai, melainkan sebagai sesuatu yang harus ditelaah dan
dipelajari secara mendalam secara terus-menerus (dalam bahasa sunda dikatakan “Ngulik cing leukeun.”) namun dengan kita
“Ngulik hirup” seyogyanya membawa
orang sunda pada kesadaran untuk selalu mengingat bahwa manusia bukanlah
segala-galanya, dan segala-galanya bukanlah untuk manusia. tapi manusia dan
alam adalah sebuah hubungan yang harus dijaga, hidup adalah sebuah
pembelajaran, dan pembelajaran itu mengarahkan atau membawa setiap pribadi pada
kebahagiaan yang diartikan sebagai sebuah rasa syukur, penerimaan dan
pengendalian diri (kaluginaan hirup). kecukupan yang mengajarkan kita untuk mengunakan segala sesuatu sewajar-wajarnya, sepantas-pantasnya, dan berusaha meraih pemahaman hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya, belajar sebaik-baiknya, untuk menemukan "kuring" (jati diri) melepaskan kuring (saya yang sebenarnya) dari "kurung" (keterbatasan manusiawi) di dalam kesadaran dan kesederhanaan hidup.
Bagi saya yang baru mempelajari
filsafat sunda, tentu saja hal ini masih menyisakan banyak pertanyaan, dan
tulisan ini pun hanyalah sebuah refleksi singkat dari secuplik pemahaman yang
coba saya kumpulkan. Pertanyaan saya, Apakah pandangan ini akan bertahan dalam menghadapi tantangan dari zaman ke zaman? Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, apakah pemahaman orang sunda adalah pemahaman yang sulit untuk dimasuki/dirasuki oleh pemahaman lain, mengingat kebiasaan bersembunyi dan mencoba "mengulik" segala sesuatu menjadi miliknya? bagaimana sebuah “peNgulikan” akhirnya dapat mencapai sebuah “kaluginaan”? bukankah
sebuah “peNgulikan” selalu membawa “keresahan”? Bagaimana dan dari mana sumber dasar yang otentik yang mampu menjabarkan inti
dari filasaf sunda itu sendiri? Tentu saja hal ini menjadi hasrat dasar untuk
kembali melanjutkan proses “peNgulikan” ini.
Wah, asik juga nih tulisan coy. Jadi agak tertantang awak ngerespon nih. Tunggu ya coy respon awak.
BalasHapusbaik bro. awak tunggu responnya. Nuhun cuy.
BalasHapusBagus bgt tulisan nya
BalasHapusNgulik diri,ngulik rasa ,tur ngulik alam pasti pinanggih dirina
BalasHapusTks infonya menarik.
BalasHapusJadi orang yg senang ngulik disebut ya atau julukan ya apa ya